Selasa, 15 April 2014

Socrates #2 : Democracia Corinthiana

Socrates bersama Zico (4Dfoot.com)

Brazil memang negerinya sepakbola, o País do Futebol. Sejak si kulit bundar datang ke negeri itu pada akhir abad ke-18 sepakbola seakan tidak bisa dipisahkan dengan negeri Amerika Latin tersebut. Di Brazil, sepakbola bukan hanya sebuah permainan olahraga melainkan juga sekaligus menjadi budaya untuk masyarakatnya.  Bahkan bisa dibilang sepakbola adalah budaya nasionalnya, karena sepakbola ternyata punya peran dalam merekatkan ikatan masyarakat di Brazil yang dikenal juga sebagai masyarakat yang multikultural:

"...The fact is that football has been an effective (and also emotional) bridge between the “elite” who brought it from the biggest colonial empire on the planet, the very civilized England, and the people from a Brazil that in the eighteen hundred was made of former slaves. Putting black and white people, just as elite and the poor, in the same place was it its first lessons. Football has demonstrated that skills are better than a family name or even the color of the skin. It was the first mean of communication truly universal and modern among all the other segments of the Brazilian society. It has been teaching how to aggregate and disaggregate Brazil through its multiple choices and citizenship*." ―Roberto DaMatta, Anthropologist, dalam Museo Do Futebol (Google Cultural Institute)
Jika dilihat dari kompetisi sepakbola sendiri, Brazil memang negeri yang mesti diperhitungkan dalam sejarah sepakbola dunia. Kesuksesan dalam mencapai torehan gelar Juara World Cup sebanyak lima kali  pada tahun 1958, 1962, 1970, 1994 dan 2002 membuat A Seleção menjadi tim yang paling sukses pada kompetisi tersebut, dibuntuti oleh Italia dengan 4 gelar yang dimilikinya. Selain itu tentu kita tahu kalau negeri samba tersebut banyak melahirkan jagoan-jagoan lapangan hijau, kita bisa menyebutkan nama-nama mulai dari Pele, Garrincha, Rivellino, Zico, Bebeto, Cafu, Ronaldo da Silva, Ronaldinho sampai ke nama-nama baru seperti Jadson, Hulk, Paulinho, Leandro Damiao, dan tentunya Neymar.

Diantara nama-nama tersebut, Brazil pernah punya seorang pemain sepakbola, sekaligus seorang jenius, postur tubuhnya tinggi ramping dengan kakinya yang panjang, berwajah keras seringkali dihiasi brewok dan kumis, rambutnya ikal, seorang pesepakbola yang terkenal bermain di klub Corinthians sekaligus juga seorang dokter, tokoh publik, pengamat politik, dan revolusioner. Pemain sepakbola itu bernama Sócrates Brasileiro Sampaio S. V. Oliveira. Singkatnya: Sócrates.

Sócrates, mengenakan pakaian dokter (estadao.com)
"Sócrates Brasileiro Sampaio de Souza Vieira de Oliveira, MD (19 February 1954 – 4 December 2011), simply Sócrates, was a Brazilian footballer who played as an attacking midfielder. His doctorate in medicine and his political awareness, earned him the nickname "Doctor Socrates"." ― Wikipedia
Sócrates, sering dipanggil juga sebagai "Doctor Sócrates" atau "The Doctor" adalah seorang pemain yang memberikan warna lain kepada sepakbola di Brazil. Mengingat sepakbola adalah budaya mengakar di Brazil, sepakbola tentu merupakan hal yang sangat diperhatikan oleh masyarakat Brazil. Hal inilah yang sangat diperhatikan oleh Sócrates. Baginya, sepakbola bukan hanya sebuah permainan soal passing, shooting, dan goal, melainkan juga sebuah sarana untuk menyampaikan idea dan menggalang kekuatan. Idea dan kekuatan yang ditujukkan kepada satu titik, perlawanan.

Pada tahun 1964 terjadi sebuah kudeta militer yang menjatuhkan pemerintahan Brazil, sejak itu sampai pada tahun 1985 Brazil menjadi negeri yang diperintah oleh kediktatoran militer. Pada tahun-tahun itulah Sócrates hidup menjadi pemain sepakbola dan merasakan betapa tertindasnya hidup dibawah rezim diktator militer yang otoriter dan sangat membatasi manusia khususnya dalam kebebasan mengemukakan pendapat dan berpikir. Untuk itu Sócrates memimpikan sebuah sistem yang baru, yang lebih memberikan ruang terhadap manusia, Sócrates memimpinkan demokrasi bagi negerinya. Mimpinya akan demokrasi itulah yang ia bawa kedalam sepakbola, untuk melawan rezim diktator militer yang kala itu berkuasa.
"If you'd ask me if Sócrates was the best player in Corinthians history, i'd answer no, Rivellino is far better ... but Socrates was by far the most singular ... You can draw a parallel ... symbolical, between Sócrates and Che Guevara, an image of revolutionary" ― Juca Kfouri, Journalist, dalam Football Rebel (Aljazeera)
Langkah awal Sócrates dimulai dari klub tempat ia bermain pada tahun 1978–1984, Corinthians. Bersama rekan-rekannya, baik itu sesama pemain seperti Wladimir dan Walter Casa Grande maupun dengan jajaran pengurus tim seperti Adilson Monteiro Alves, Sócrates membangun Corinthians menjadi sebuah klub sepakbola yang memiliki sebuah kesadaran politik. Lewat klub ini, Sócrates dkk. membentuk sebuah gerakan untuk demokrasi, yang dimulai dari sebuah klub sepakbola untuk negeri Brazil yang lebih luas. Gerakan tersebut dikenal dengan nama Corinthians Democracy atau dalam bahasa Brazil disebut Democracia Corinthiana.

Pendekatan yang dilakukan oleh gerakan Corinthians Democracy dilakukan melalui simbol-simbol seperti logo pada bagian belakang jersey dan spanduk-spanduk yang menyuarakan demokrasi. Selain itu pendekatan juga dilakukan dengan mengubah sistem klub Corinthians menjadi lebih demokratis. Dalam hal ini, keputusan klub dibuat oleh semua stakeholders yang ada di dalam tim. Mulai dari pengurus, physio, coach, pemain, bahkan para pelayan klub. Keputusan diambil melalui sistem vote. Mereka juga mengedepankan komunikasi diantara semua elemen di dalam klub, banyak diadakan diskusi-diskusi dan debat. Bahkan, tak jarang mereka mengundang para seniman untuk bergabung dalam pembicaraan mereka. Ya, sepakbola dijadikan laboratorium untuk bagaimana hidup seharusnya.

Tim Corinthians di depan publik (google)
Jersey Tim Corinthians yang bertuliskan Democracia Corinthians. (imguol.com)

Spanduk bertuliskan "Menang atau kalah, yang penting dengan cara demokrasi" (globoesporte.globo.com)
"Corinthians Democracy was the voice of Brazilian war. Corinthians Democracy was the voice of football, the voice of sports, in a struggle to re-democratize the country. that's what the corinthians democracy was."―Adilson Monteiro Alves, dalam Football Rebel (Aljazeera)
Bersama Corinthians Sócrates dkk. bermain dengan baik, hasilnya adalah mereka menjuarai Liga Brazil sebanyak 3 kali pada tahun 1979, 1982, 1983. Permainan sepakbola yang baik dan prestasi yang dicapai tentu membuat gerakan Corinthians semakin dikenal oleh seluruh masyarakat Brazil. Tak sedikit yang menentang gerakan tersebut, seperti para pers pemerintah dan para pebisnis Sao Paulo yang punya kepentingan dengan pemerintah yang berkuasa, Corinthians dicap sebagai sekumpulan anarkis. Tapi tak sedikit juga yang memberikan dukungan, belum lagi dengan banyaknya suporter Corinthians yang loyal dan militan. Perlawanan tetap berlanjut, sampai pada akhirnya pemerintah mengadakan pemilu setelah lama tak diadakan. Melaui momentum tersebut, Corinthians Democracy kembeli melakukan manuver dengan cara mengajak seluruh warga Brazil untuk turut serta dalam pemilu melalui Jersey bertuliskan, "Dia 15 Vote", Vote pada tanggal 15.

"Dia 15 Vote" (google)
Sebagai tim papan atas, ternyata gambar dari jersey yang dikenakan oleh Corinthians dimuat oleh koran-koran di Brazil. Bukan hanya koran-koran yang beredar di Sao Paulo, tapi untuk seluruh Brazil. Pada akhirnya pemilu pun diadakan, dengan hasil kekalahan untuk rezim diktator militer. Di berbagai bagian Brazil, para oposisi pemerintah memenangkan suara.

Sócrates dengan gerakan Corinthians Democracy-nya menunjukan bahwa sepakbola bukan hanya soal pertandingan 90 menit di lapangan, juga bukan hanya kemenangan, kekalahan, profit klub, popularitas. Sepakbola pun sebuah bagian dari kehidupan, yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana mengemukakan pendapat dan menggalang kekuatan. Terlebih lagi pada negara yang menganggap sepakbola sebagai bagian daripada budayanya seperti Brazil.
"Di negeri yang sering menganggap sepakbola sebagai agama, Socrates tak ubahnya seorang teolog yang tak henti-hentinya mengkampanyekan pembebasan sepakbola dari korupsi, para pemain yang rakus, para pemilik klub yang tamak dan perusahaan-perusahaan multi-nasional yang menjajakan produknya melalui sepakbola."― Zen RS, Socrates dan Sepakbola sebagai Bendera Perlawanan (detiksport)
Sócrates meninggal dunia pada 4 Desember 2011, pada hari dimana Corinthians merebut Juara Liga Brazil. Sebelum pertandingan terakhir tersebut, diadakan mengheningkan cipta untuk dirinya. Seisi stadion mengangkat tinjunya keatas, meniru gaya selebrasi yang biasa dilakukan oleh Sócrates.

Rest In Peace, Sócrates.

Socrates mengacungkan tinju. (squarespace.com)
Diringkas dan disadur dari video Aljazeera Football Rebel : Sócrates

Kamis, 03 April 2014

Socrates #1

The Death of Socrates, karya Jacques-Louis David

Sekarang minggu UTS, dan masih ada seminggu lagi. Hal yang menyebalkan dari UTS adalah sempitnya waktu buat cari pengetahuan diluar bahan UTS. Kaya si Arish sama Bayu, yang kesulitan buat nyelesain Dunia Sophie sama Sherlock Holmes karena ada take home MMI sama sit-in MPKT B di hari Jum'at. Waktu sekian banyak itu bakal kemakan sama bahan-bahan dari Pak Koen, Amartya Sen, dan LSPB-LSPB dari Scele sehingga minim kesempatan untuk lari ke bacaan yang lain, yang lebih menyenangkan mungkin. Tapi kesempatan ga cuma datang karena kebetulan atau pemberian deng, bisa juga dibuat. Lagian saya kan alumni belitung timur, yang punya filosofi akademik kalau UTS adalah Ujian Teu Serius (teu=tidak), jadi rilek ajalah dulu kita cari-cari info tentang Socrates yang tadi sempat diomongin di depan fotokopian penjara.

Siapa Socrates? Seumur hidup saya, saya tau dua orang yang punya nama Socrates. Yang satu dari Yunani, dan satu lagi dari negeri tuan rumah Piala Dunia 2014: Brazil. Socrates yang dari Yunani itu kerjaannya nggembel di jalanan Kota Athena berfilsafat sama orang-orang yang dia temuin, sementara yang dari Brazil itu kapten tim nasional sepakbola Brazil di World Cup 1982, sebuah tim yang dipecaya sebagai salah satu tim terbaik yang pernah terbentuk di muka bumi. Jadi kedua orang yang bernama Socrates ini memang jelas beda, tapi duaduanya punya kesamaan: sama-sama keren. Dan pada kesempatan ini saya mau ngomongin Socrates yang dari Yunani dulu setelah tadi entah kenapa di depan fotokopian penjara banyak ngobrol tentang filsafat sama Bayu dan Arish.

Wikipedia bilang :  
 "Socrates (Yunani: Σωκράτης, Sǒcratēs) (469 SM - 399 SM) adalah filsuf dari Athena, lahir di Athena, dan merupakan generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani, yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles. Semasa hidupnya, Socrates tidak pernah meninggalkan karya tulisan apapun sehingga sumber utama mengenai pemikiran Socrates berasal dari tulisan muridnya, Plato." 
Salah satu dari tulisan Plato tentang Socrates adalah The Apology, yang katanya juga ditulis oleh Xenophon. Tulisan ini berisi tentang dialog Socrates sewaktu dia digugat oleh sekelompok orang dan dihakimi di Athena, yang pada akhirnya berujung dengan hukuman mati buat Socrates dengan cara meminum racun hemlock. Di pengadilan ini, Socrates dituduh sebagai orang yang "pembuka pintu menuju kejahatan, meracuni kaum muda, dan tidak percaya kepada dewa-dewa.", diantaranya orang-orang yang menuduh Socrates adalah Meletus, Anytus dan Lycon.

Sebenarnya tuduhan itu datang dari kebiasaan Socrates yang mungkin bisa dibilang unik buat waktu itu, mungkin juga buat sekarang. Kalau mengutip ke buku lucunya Osborne, Socrates itu suka berpakaian lusuh, kaki telanjang, dan senang menghabiskan dirinya berdebat di pasar. Ia sangat menaruh perhatian terhadap moralitas, terhadap upaya menemukan yang adil, benar, dan baik. Bisa dibilang, dia salah satu filsuf pertama yang bicara tentang etika. Dan upaya untuk menemukan yang adil, benar, dan baik itu dia lakukan dengan metode dialektik, yang sering juga disebut metode bidan kebenaran, sebuah metode tanya-jawab dalam pembicaraan untuk menemukan jawaban yang paling benar atau mendasar. Jadi Socrates yang satu ini masuk dalam kategori manusia kepo, senangnya ngobrol dan nanya-nanya, bahkan menganggap dirinya sebagai "lalat pengganggu" bagi manusia-manusia yang malas.

Kegiatan kepo ini sebenarnya ada sebab-musababnya. Kita kayanya udah ga jarang denger ungkapan Socrates kalau yang dirinya tahu adalah bahwa dirinya tidak tahu apapun, dan itulah bentuk dari kebijaksanaan. Socrates memiliki sebuah pandangan kalau kebijaksanaan adalah sikap rendah hati yang selalu berproses untuk terus mencari suatu yang baik dan benar. Pandangan ini gak begitu aja dateng ke Socrates, ada ceritanya.

Jadi ceritanya Socrates punya teman, namanya Chaerephon, yang pergi bertanya ke Oracle Delphi:
"...You must have known Chaerephon; he was early a friend of mine, and also a friend of yours...Well, Chaerephon, as you know, was very impetuous in all his doings, and he went to Delphi and boldly asked the oracle to tell him whether he asked the oracle to tell him whether there was anyone wiser than I was, and the Pythian prophetess answered that there was no man wiser..." ―Socrates, dalam Plato, The Apology.
Jadi Socrates mendengar kalau dialah manusia yang paling bijak, dia juga sebenarnya bingung denger berita dari Delphi tersebut:
"I know that I have no wisdom, small or great. What can he mean when he says that I am the wisest of men?"―ibid.
Nah, dari kebingungannya itu dia jadi kepo, dia datangi orang-orang yang dia anggap lebih bijaksana dari dirinya dan menggunakan metode pembidanan tadi untuk mengetahui apakah sebenarnya yang diketahui dari orang-orang yang terlihat bijaksana tersebut. Hasilnya adalah, dia hanya menemukan kalau orang-orang tersebut hanya sok bijak dan sok tahu, karena ketika Socrates memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menguji pengetahuan orang-orang bijak tersebut, mereka tidak bisa menjawabnya. Dan akhirnya kegiatan Socrates tersebut jadi buah simalakama tersendiri, orang-orang yang menganggap dirinya bijak itu sakit hati dan membenci Socrates.
"When I began to talk with him, I could not help thinking that he was not really wise, although he was thought wise by many, and wiser still by himself; and I went and tried to explain to him that he thought himself wise, but was not really wise; and the consequence was that he hated me...So I left him, saying to myself, as I went away: Well, although I do not suppose that either of us knows anything really beautiful and good, I am better off than he is - for he knows nothing, and thinks that he knows. I neither know nor think that I know."―ibid.
Begitulah Socrates menyimpulkan kebijaksanaannya yang berarti merendah hati kalau ia tidak mengetahui apapun, dan tidak sok tahu tentang suatu pun. Sehingga muncul keinginan untuk selalu mencari pengetahuan lewat dialog-dialog bersama orang-orang yang ditemui. Ia berusaha mencari jawaban terbaik dari dialog-dialog dengan cara menanggapi suatu pernyataan dengan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap pernyataan tersebut. Yang akhirnya jawaban terbaik itu dapat ditarik secara logis.

Dari dialog-dialog yang dilakukan Socrates muncul pengetahuan-pengetahuan baru di masyarakat Athena, yang tak jarang bertentangan dengan nilai-nilai yang sudah lama ada di Kota tersebut. Selain itu sikap kritis Socrates seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya banyak menimbulkan rasa sakit hati terhadap orang-orang yang awalnya dipandang bijak namun dijungkirbalikkan oleh sikap Socrates. Karena itulah pada suatu hari gugatan dilayangkan kepada Socrates, dan Socrates pun di hakimi di pengadilan Athena.

Di pengadilan itu Socrates tidak merasa ada kesalahan akan apa yang ia laluinya. Ia bilang, ia hanya melakukan tugas yang diberikan oleh para Dewa, lewat pesan yang ia terima dari Oracle Delphi, bahwa ia adalah manusia yang paling bijaksana dan berusaha membawa warga Athena kepada kebijaksanaan tersebut lewat metode pembidanannya. Dimana lawan dialog mendapatkan kebenaran dari jawaban yang diformulasikannya sendiri dari pertanyaan Socrates, bukan lewat pengajaran dalam artian pengetahuan itu diberikan secara langsung dari Socrates. Dan sebenarnya warga Athena pun toh senang terhadap dialog-dialog yang dilakukan Socrates, dan ada juga orang-orang yang pernah berdialog dengannya tapi tidak merasa dirugikan karena dialog tersebut, ya si Plato contohnya.
"But I shall be asked, "Why do people delight in continually conversing with you?" I have told you already, Athenians, the whole truth about this: they like to hear the cross-examination of the pretenders to wisdom; there is amusement in this. And this is a duty which the God has imposed upon me, as I am assured by oracles, visions, and in every sort of way in which the will of divine power was ever signified to anyone."―ibid.
Namun, akhirnya Socrates tetap dinyatakan bersalah lewat voting yang diadakan dalam pengadilan tersebut. Tidak jelas berapa lawan berapa, namun dicatat dalam The Apology kalau Socrates kalah 30 suara, yang bisa dihitung kalah sedikit dari pemenang voting. Dan muncullah usulan kalau Socrates harus dihukum mati,

"And so he proposes death as the penalty. And what shall I propose on my part, O men of Athens?...I believe that I should have convinced you; but now the time is too short. I cannot in a moment refute great slanders; and, as I am convinced that I never wronged another, I will assuredly not wrong myself. I will not say of myself that I deserve any evil, or propose any penalty."―ibid.
Socrates merasa bahwa dia bisa saja meyakinkan kembali para juri disana, tapi waktu yang tak tersedia tidak cukup untuk menghilangkan fitnah besar terhadap dirinya. Tapi ia masih tetap pada pendiriannya kalau dirinya tak bersalah, maka ia tidak mau mengajukan usulan banding terhadap hukuman matinya tersebut. Memang dia membicarakan juga tentang hukuman seperti penjara plus dendanya, atau hukuman pengasingan. Tapi ia berpendapat bahwa dipenjara sama saja menjadi budak hakim, dan jika ia diasingkan tetap saja ia akan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan di Athena ketika ia sampai di tempat pengasingannya. Seain itu ia juga berpendapat bahwa mengajukan banding sama saja dengan mengakui bahwa dirinya bersalah dan ia lebih takut terhadap kematian daripada berpaling dari kebenaran. Sehingga dengan tegas ia menerima hukuman mati..

"The difficulty, my friends, is not in avoiding death, but in avoiding unrighteousness.."―ibid.
Dan palu pun diketuk, Socrates dihukum mati dengan meminum racun hemlock. Menurut Wikipedia, Kematian Socrates dalam ketidakadilan peradilan menjadi salah satu peristiwa peradilan paling bersejarah dalam masyarakat Barat di samping peradilan Yesus Kristus. Kematian Socrates memang dramatis, mati demi sesuatu yang ia yakini benar, seolah kebenaran lebih berharga daripada hidup sendiri. Selain itu, saya juga bisa melihat kalau kematian Socrates pun menjadi tamparan tersendiri dalam sistem voting pada peradilan Athena yang menganut demokrasi tersebut. Seolah tidak ada kebijaksanaan disana, dan Socrates memilih untuk mati demi menunjukkan adanya ketidakbijaksanaan tersebut. Mungkin ia memang sengaja bertindak sebagai martir untuk memancing kita untuk lebih dalam bertanya.. Seberapa besar nilai suatu kebenaran?

Selasa, 01 April 2014

Aku Melihatmu

"My eyes have seen you.." -The Doors

Aku melihatmu,
Untuk pertama kalinya,
Diantara wajah-wajah asing yang lambat laun ku kenal.
Tapi tidak dengan wajahmu,
Yang selalu jadi rahasia-rahasia tak terpecahkan.
Pada setiap malam yang tak mengizinkanku untuk terpejam.

Aku melihatmu,
Pada jalan rindang yang melintang,
Di samping sekolah itu.
Yang senantiasa kau tempuh,
Untuk semakin menjauh.
Sementara aku hanya memperhatikan,
Pada suatu jarak yang tak mengizinkanku untuk mendekat.

Aku melihatmu,
Pada dinding-dinding kelas yang menguning.
Memisah ruang, menjadi batas.
Antara kau dan aku.
Yang biasa ku siasati,
Lewat harapan pada celah-celah jendela yang sempit.
Yang terpasang pada dinding-dinding lorong itu.

Aku pun melihatmu,
Pada kabut yang turun dari puncak-puncak gunung.
Yang membelai dan menyapa,
Pucuk-pucuk daun edelweis di lembah itu.
Menari aggun bersama angin dingin, dan langit yang kian kelam.
Yang mengisyaratkanku untuk mencari kehangatan,
Kepada nyala api unggun yang hampir padam.

Aku juga melihatmu,
Pada langit biru yang terbentang di angkasa.
Dimana awan-awan putih berarakan.
Dengan lembut bergerak perlahan,
Seperti tatapan yang takan pernah terlupakan.
Dari sepasang mata teduh yang tajam.
Yang membuatku mengharap
Agar mendung lekas datang.

Aku bisa melihatmu,
Dalam ketiadaanmu,
Lewat pandangan basah yang memburam,
Oleh air mata yang tertahan dan menggenang.
Karena kerinduan yang tak dapat tersampaikan,
Karena kerinduan yang tak pantas untuk disampaikan,
Dalam kesendirian,
Yang tak dapat ku redam.

Pernah memang,
Kucoba membuat mata terpejam.
Untuk mengusir pandang.
Agar kau tidak lagi ku temukan.

Tapi kau menjelma juga dalam kegelapan.

Malam sebelum UTS, 2014.

Jumat, 28 Maret 2014

Waktu

Jarum detik terus berputar, melingkari sudut 360 derajat. Begitu juga dengan butir demi butir pasir itu, mereka turun melewati leher tabung yang sempit, berpindah tempat dari wadah yang tinggi ke rendah, dan Tuhan berkata bahwa kita merugi karenanya.

Bersama putaran jarum jam, bersama turunnya pasir-pasir itu kita bergerak, terikat terhadap kerangka acuannya masing-masing. Jarum berputar terhadap lingkaran, pasir turun terhadap ruang tabung, dan kita bergerak terhadap ruang yang kita hidupi. Hubungan antara gerak dan ruang tersebut dinamai waktu. Konsep abstrak yang misterius. Ada relatifitas, ada paradoks, dan ada pengabaian kepadanya. Dan dalam kerumitan itu deminya Tuhan berkata, kita merugi.

Mereka bilang bumi dan peradaban manusia sudah tua usianya. Bisa dibilang sampai bermiliar tahun. Dalam perjalanannya yang panjang itu dulu dibilang pernah hidup reptil-reptil besar, manusia gua, peradaban babylonia, filsuf-filsuf yunani, kerajaan-kerajaan agung, perang dunia, tragedi, dan banyak lagi sampai kata "dulu" pada awal kalimat itu berubah menjadi "sekarang", sebelum nantinya berubah lagi menjadi "dulu".

Tapi kita tidak pernah melewati cerita tentang yang dulu-dulu itu, kisah yang kejadiannya sebelum pada kelahiran diri kita ke dunia. Kita hidup di masa kita hidup. Tapi kita percaya saja kepada yang dulu-dulu itu, yang telah lumat dimakan waktu. Yang dimuseumkan dan diawetkan dalam sejarah. Sehingga tak jarang kita tertipu dan meragukan kebenaran-kebenaran dalam sejarah itu. Seperti kata Emerson, generasi terdahulu berhadapan dengan Tuhan dan alam secara empat mata, sementara kita melalui mereka.

Walaupun yang dibelakang itu sudah mati, dan seberapapun besarnya keraguan kita terhadapnya. Kita mesti menerima bahwa apa yang telah tertinggal itu tetap punya dampak bagi kita yang masih berjalan terseret waktu sekarang. Sartre mungkin bisa bilang bahwa ada jarak antara aku dan masa lalu; aku yang kini berbeda dengan aku yang dulu, tak ada masa lalu yang menyebabkan aku melakukan hal apa pun sekarang. Yang Sartre terima hanya faktisitas-faktisitas yang memang biasanya bawaan dari lahir, bentuk fisik contohnya. Tapi tak semudah itu Sartre. Saya kira memang Sartre ingin menunjukkan sisi manusia yang dapat selalu berusaha mencari jalan baru diluar pilihan masa lalu. Dan usaha perlu tenaga. Tenaga yang sekaligus memberikan kekuatan pada usaha untuk menolak ingatan masa lalu. Yang nyatanya, ingatan masa lalu itu selalu ada dan batin kita dapat menyelaminya. Bahkan melekat, seperti trauma.

Jadi waktu menyeret kita ke depan, tapi masih mempersilahkan untuk kita menoleh ke belakang, juga mungkin, membawa serta berapa hal dari hari-hari di belakang. Dan karena itu manusia sering terjebak pada perasaan yang merindu yang dalam, padahal sebabnya seringkali hanya oleh hal-hal kecil karena apa yang dulu ada dan bermakna kini telah tiada, atau mungkin tidak lagi terletak disana. Sementara makna dari benda yang tiada tersebut tinggal diam terpotret dalam ingatan kita. Time can bring you down, time can bend your knees, nyanyian sedih dari Clapton.

Karena itu juga pada suatu titik dalam sejarah yang sedang kita gumuli ini sering terjadi penyesalan-penyesalan yang sentimentil. Rasa-rasa bersalah akan hal-hal yang kita lakukan di kemarin hari, yang kesalahan itu memberi dampak besar bagi diri kita di hari ini. Sementara waktu membawa kita ke depan, kita berharap untuk kembali ke titik yang telah kita lalui itu, untuk memperbaiki yang rusak kini agar tak ada luka, agar tak ada yang pergi. Dan pada titik inilah kita seringkali tersadar dan mencoba memahami: demi masa, manusia merugi. Kita tak memanfaatkannya dengan cukup baik.

Ada memang usaha-usaha untuk mensiasati waktu. Mesin waktu, rumus-rumus relativitas, blackhole-whitehole, banyak lagi. Ada memang, tapi itu terlalu rumit bagi saya. Disini saya hanya bicara sebagai jiwa yang berjalan dengan penuh penyesalan dalam waktu.

"And then one day you find, ten years have got behind you. No one told you when to run, you missed the starting gun."

Pink Floyd, Time.

Rabu, 19 Maret 2014

Sapardi : Dalam Doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Aku mencintaimu..

Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu

Sapardi Djoko Damono - 1989

Minggu, 09 Maret 2014

Biru Donker

"Semalam sama maraneh lebih berarti daripada seminggu di ITB." - Alvin Noviansyah

"Semalam sama maraneh lebih berarti daripada satu semester di UI" - Aing

"Aing malah ngerasa aing bukan bagian dari UNPAD!" - M. Arnaldo "Tarso" Budyawan

Sebenarnya apa yang saya kutip diatas tak benar benar terucap. Cuma kata-kata Alvin yang nyata pernah diutarakan. Tapi bila pernyataan Alvin itu mau diberi perbandingan, mungkin itulah yang saya dan tarso akan nyatakan.

Jum'at sore ada laporan awal (LA) program kerja angkatan yang baru menjabat. Selepas dari sana malam masih sayang untuk disiasiakan dengan pulang ke rumah masing-masing. Sayang betul, karena jarang kami berkumpul kembali selepas masa SMA. Saya di Depok, tenggelam ditengah lingkungan politik tai kucing. Alvin di ITB, sibuk oleh rumus dan muak oleh lingkungan yang penuh tekanan IP tinggi. Ali di Bandung juga, calon mahasiswa USA yang belum juga dapet Visa. Farid pernah di Polban, tapi memutuskan untuk ngulang ke UNPAD. Kalau Tarso di UNPAD, dia jadi mahasiswa KUPUKUPU MATI, Kuliah Pulang - Kuliah Pulang.. Malam Party. Selain mereka ada juga Iskandar dan Dio, anak Telkom dan Ars Unpar, yang sehabis LA pisah rombongan gatau kemana. Dan selain kami bertujuh juga, sebenarnya ada 22 orang lagi dari "kami" yang ga ada di LA. Kumpul Fullteam udah susah makin susah. Maka selepas LA itulah, mumpung ada momen kumpul kecil, rombongan 5 orang tanpa si Iskandar dan si Dio ngopi cantik di Jalan Sumatera.

Bisa di bilang kami-kami yang ngumpul malam itu pria-pria gagal  move on. Baik itu move on dari lingkungan SMA, maupun dari... ah tai. Ya singkatnya gitu lah, kami udah lulus dari SMA dan dari Ekskul kami. Tapi, kenyamanan nyatanya masih ada di tempat yang seharusnya kami telah jauh tinggalkan. Kami bukan semacam orang-orang yang punya style sama, selera musik sama, ataupun pandangan hidup yang sama. Bukan. Tiap dari kami punya perbedaan yang bahkan sangat jauh jaraknya. Katakanlah saya, yang selalu menilai musik-musik olahan DJ tidak lebih baik daripada suara kentut, juga gaya hidupnya. Tapi diseberang meja sana saya berhadapan juga dengan Tarso dan Ali, duaduanya DJ. Tapi entahlah, kami bisa menerima kehadiran masing-masing di meja kopi malam itu.

Semuanya berawal ketika saya masuk SMA, di Belitung Timur. Sekolah yang punya ciri khasnya sendiri, yaitu ekskul dan kebebasan. Berbeda dengan sodaranya, Belitung Barat yang lebih ke arah murni akademis, kami biasa sindir mereka dengan umpatan "bau rumus". Dalam memilih ekskul di Belitung Timur saya merasa ga terlalu susah, teman SMP saya pernah ngasih saran untuk pilih ekskul senirupa dan dekorasi; Rancang Bangun. Ya, bocah ingusan itu dulu memang inginnya jadi seniman.

Saya masih ingat yang nempel poster RB di kelas MPLS saya waktu itu my brader LZ, Luthfi Zulkifli, yang kelak jadi koordinator saya di Divisi Warna. Setelah MPLS beres dan masa pendaftaran ekskul dimulai, daftarlah saya ke "spot" dan mulai ikut rangkaian seleksi.

Seleksi pertama adalah menggambar dan ekspresi. Seingat saya waktu itu ada sekitar 86-88 calon. Banyak juga yang daftar, tapi dari desas desusnya saya dengar ga akan lebih dari 5 orang dari tiap divisinya yang bakal di terima. Yang daftar juga bermacam orang, dari anak culun, anak preman, yang kaya brontosaurus (si ali), gadis manis berkemeja putih, anak viking persib adiknya ekomaung, segala ada. Dari awal ini kami memang sudah bisa melihat perbedaan diantara kami semua sebagai calon anggota. Tapi kalau saya beralih pandang ke kursi dewan pengurus, coy, satu warna biru donker deh.

Sebelum tes gambar serius kami para calon disuruh gambar bebas. Dan karena si aing dari dulu memang manusia yang seperti ini yah, bingung juga disuruh gambar bebas, akhirnya saya coba aja gambar semaunya, dan jadilah di kertas itu anak tuyul lagi kencing lengkap dengan alat kopulasinya. Dan jadilah gambar itu bahan eme eme senior. Kampret. Saya buat kesan buruk di hari pertama saya pikir. Sehabis itu seleksi yang serius dimulai, gambar dan ekspresi, cukup lama sampai hari mulai sore buat begituan doang. Selesai seleksi ternyata ada pembagian kelompok untuk seleksi selanjutnya : hasta karya.

Hasta karya itu semacam dekoran kecil. Dikerjain sama 9-10 orang, walaupun ada grup super yang isinya 5 orang karena telat ikut, itu kelompoknya si Tomi dan Bundo. Saya sendiri masuk ke kelompok 3, isinya 10 orang. Di kelompok inilah saya ketemu anak keturunan cina yang sampe sekarang jadi salah satu partner in crime saya : Alvin. Selain Alvin di kelompok 3 saya ketemu juga sama Putsop, bule garut yang kerjanya keliling dunia. Juga si Dio yang Arsi Unpar tadi, anak cowo yang selalu punya probabilitas tinggi buat dapet angket terganteng di syukuran RB.

Di kelompok 3 itu kami bikin "Mesi", Meja Inspirasi, meja laptop lengkap dengan kipas pendingin lengkap dengan rak buku. Bentuknya monster gelondongan kayu yang lagi mangap. Pokonya keren. Saya nilai Mesi saya ini paling bagus daripada yang lain. Ya kalau pun ada yang bilang ga bagus, saya yakin bukan yang paling buruk. Karena yang paling buruk itu rak sepatunya kelompok Ibo, hahaha.

Ibo, Luthfi Arief pria berambut kribo, orang selain Alvin yang saya percaya cocok untuk jadi kepala di angkatan kami ketika masa pra-dewan pengurus, hobinya dagang, dan kini kuliah dan aktif di SBM ITB. Ali sering sebut Ibo sebagai "The Special One". Karena dialah orang satu-satunya yang lulus jadi anggota RB dari kelompok yang bikin rak sepatu bentuk sepatu yang absurd itu. Tapi maklum, pada dasarnya produk hasta karya itu memang gajelas semua. Kebanggaannya ya kesunyian masing-masing lah.

Sampai pada akhirnya hari penerimaan yang konyol. Iya, konyol kan waktu itu. Saya ga mau ceritain. Yang waktu itu pernah disana inget aja sendiri konyolnya dimana. Di hari itulah pengumumannya, siapa saja yang punya hak untuk jadi anggota resmi RB. Yang waktu di awal penentuannya pakai dekoran yang bisa ngomong gitu deh. Cuma sekitar 5 orang yang naik ke dekoran itu. Diantaranya ada Baim, atau Ibrahim Paranggupito, darah biru dari persib kental mengalir di darahnya, sangat lihai dalam mencuri lampu taman di perkotaan. Ada juga Aput, cewe yang tanggal lahirnya sama kaya saya, kalau ngambek kayanya galak. Si Ali juga termasuk yang naik, si brontosaurus wikipedia berjalan, tertarik ke hal-hal yang bau baunya amerika kaya glee, navy seal, nasa, dll.

Nah, habis orang-orang yang naik ke dekoran itu pada selesai, barulah dibentangin spanduk. Isinya ada 30 nama yang dibagi ke 4 Divisi; Rangka 9 orang, Warna 7, Listrik 5, Pernak-Pernik 9. Dan ada juga nama saya, dibawah namanya si Adit Titit, jago gambar yang sekarang kuliah di Malaysia. Itu berarti saya keterima. Dan ternyata selain saya, ada juga yang keterima, brengsek yang saya kenal dari jaman SMP, orang yang baru pertama kenal pasti nilai ini anak paling songong yang diciptakan Tuhan; Arnaldo, kelak dapet  panggilan Tarso.

Selain Tarso, kenalan SMP lain yang ternyata diterima jadi anggota RB juga banyak. Ada Farid, bocah yang sering saya temuin di gerbang SMP, karena kita sering dateng ke sekolah bareng, dalam artian telat. Nantinya Farid jadi Koordinator Divisi Rangka. Ada juga Ipat alias Dendito, manusia nekat yang akhirnya diasingkan. Yang nantinya juga sempat jadi Koordinator Divisi Listrik. Ada juga Karin, cewe super yang bisa menularkan enerjinya ke seantero angkatan, motivator sejati dari naknik. Ada Rijal The Speed Demon, doyan balap dan partner utama buat naik gunung dan travelling. Ada juga Fira atau Bundo, mother of all mother. Heaa.

Sehabis penerimaan, kami belum resmi jadi anggota. Ada Pelantikan atau Pengukuhan. Ya gitu deh pengukuhan. Pra-pengukuhan kita-kita latihan push-up coy di pinggir kolam rumah Tarso kaya orang sarap. Ga banyak juga yang bisa diceritain di malam pengukuhannya. Saya masuk ke kelompok 2. Bareng Ibo, Dio, Putsop, Ali, Fira. Selain itu ada Aldi, manusia dari pedalaman katapang, lihai main gitar dan selalu ketangkep kamera kalo lagi tidur pas gawe/pemasangan. Sekelompok juga sama Sisil, Silmina Adzhani, cewe yg pake kemeja putih di seleksi pertama itu. Juga sama si Cacun, Rapsa, temen sebangku dari kelas XI-XII, pemegang jabatan Koordinator Umum nantinya.

Oh, ada juga yang ga ikut pengukuhan. Ditengah jalan ke jayagiri dia dibawa ke RS, sakit demam berdarah. Rian Karya. Siapa Rian Karya? jawabannya singkat aja : The Godfather.

Setelah resmi jadi anggota dan dapet syal, mulai lah kami ikut gawe di proker-proker, dari awalnya syukuran di rumah Ummi Tetha, RB Gathering, dan terus berlanjut ke proker di kepengurusan 2012 seperti bazaar, malam syukuran kelulusan, rangkaian seleksi, pengukuhan, RB Cafe, sampe ke Pra DP dan DP. Lewat semua proker itulah 30 anak ingusan belajar, berkarya, dan yang paling penting dipaksa bersama.

Kami memang selalu dipaksa untuk bersama. Saking dipaksanya ada diantara kami yang muak juga. Termasuk saya, di akhir kepengurusan waktu jadi Koordiv Warna. Males rasanya liat rancangan, cat, acian yang belum diplamir dan muka-muka kaya si Iskandar, Aldi, Cacun, dan Doni. Tapi ga bisa dipungkiri juga, ada indahnya perjalanan dari Kelas X sampai Kelas XII itu. Manis rasanya ketika buka arsip laptop yang isinya foto-foto gawe dan karya-karya yang kami buat. Jujur, saya berani ngadu dekoran sama siapapun kalo kerja bareng lagi sama Biru Donker 2013. Kami punya komposisi yang lengkap. Sebagai sekelompok "seniman" kami mumpuni, Konseptor - Worker - Motivator kami punya.

Konseptornya pun macem-macem, dari yang tipe pemikir liar kaya Rolly, Tomi, dan Adit sampai ke yang tipe lebih mempertimbangkan aspek realistis atau tidaknya kaya Wirestu, Doni, Megan, Ali, Dio dan mungkin si aing, dan mungkin banyak lagi.

Worker, kami punya otot-otot baja semacam Samson dan Redinal. Terlebih Samson, si ringan tangan yang kalau ga ada gawepun dia nyari kerjaan sendiri, motongin bambu/kayu tanpa alasan. Selain itu ada juga Worker-worker yang tipenya "Work Smart" yang taktis; diantaranya Ketua kami si Alvin, Ibo, Rian, Duo ahli listrik Rijal - Ading, dan Baim "The Lightning Thief".

Motivator, yang paling saya catat seumur hidup saya ada dua motivator sejati di dalam tim, yang bisa membangun suasana gawe kembali penuh tawa : cowonya si Iskandar, dan cewenya ya si Karin.

Tapi memang sebagai "pengurus" kami kelabakan. Karena kami ga suka diatur, dan mengatur. Kaidah merancang lalu membangun pun kadang ga sepenuhnya kami taati. Kami ngedekor jarang dituntun sama rancangan yang rapi. Entah kenapa, rasanya PD aja. Orientasi kami memang lebih ke seni dan segala hal yang bikin senang, hedonist mungkin. Ini bisa diliat nantinya ketika kami udah jadi Alumni. Pembawaan kami datang lagi ke RB ya buat santai dan senang-senang.

Di Belitung Timur segerombol Biru Donker ini stereotipnya adalah kumpulan yang eksklusif. Mungkin ya, mungkin ngga. Kalau di liat dari anak-anak cowonya, mungkin bisa dibilang iya ketika kami datang ke kumpul sekolah sebagai serombongan. Mungkin bisa diingat insiden "Dengan Membeli Aqua" di aula gedung lama yang konyol itu, yang berakhir dengan si Alvin hampir dilabrak sama salahsatu panitia karena kala itu cowo-cowo Biru Donker buat panitia jengkel. Dengan jalan pikiran khas Biru Donker; yang katanya didasari oleh didikan dari ruang dan waktu. Lebaynya gitu, tapi kalau dipikir ada benernya.

Tapi yang lebih indah lagi sebenarnya bukan karya-karya itu, bukan juga jalan pikiran yang sering membuat Biru Donker serasa pasukan dari Mount Olympus yang siap mengacak-acak musuh di medan intelektual. Bukan kedua hal itu. Keindahan lebih sering datang di waktu dan tempat yang sederhana. Pada waktu dimana bel sekolah baru berdering, dan kita langsung melangkahkan kaki ke sudut Taman PLN itu. Duduk di langkan kursi DP, dibawah pohon rindang sambil berwacana menunggu senja yang belum juga datang. Seringkali begitu lucunya saat-saat itu, seperti ketika Aldi dan Redinal yang saling membalas ejekan, antara "Si Bibir dan Si Item", atau ketika kita Bully si Tomi yang cintanya kandas oleh adik kelas; "Aing Tomi, maneh F*t* ah? Sori nya nu kamari." begitulah kira kira yang sering kita ungkit dan tertawakan.

Selain itu bisa kita ingat rumah kedua anak Biru Donker, Rumah Tarso. Lengkap dengan kamarnya dan naknik ke-10 kita ; Bi Ngkay. Kamar Tarso memang unik, mungkin yang namanya Pluralisme itu ya apa yang sering terjadi disana. Coba bayangkan sebuah kamar besar, sudutnya empat. Di satu sudut kita bisa lihat orang-orang religius seperti Rijal solat, di sudut lain ada yang nangkring sambil ngomongin sejarah dan sains, di dekat kasur bisa ditemukan anak-anak yang lagi mencampur Jack Daniel's dengan Coca-Cola atau Green Sands lengkap dengan rokoknya, dan disudut terakhir ada meja komputer, biasa dipakai main PES atau ngebokep. Kami gak perlu ditatar konsep toleransi, kami gak perlu filsafat postmodernisme yang kaya tai itu, kami ga perlu juga memandang darimana dia datang dan akan seperti apa. Di ruang kamar itu secara natural kami bisa berbagi bersama kegiatannya masing-masing, dalam kebahagiaannya masing-masing.

Memang sulit untuk kembali seperti dulu dan mencoba membangun kembali kenangan indah itu. Selepas SMA, sekarang disinilah kami, sekelompok kecil di meja kopi, berbicara tentang kenangan, hidup, dan cinta. Malam Sabtu yang basah di Kota Bandung. Malam Sabtu yang jarang kita dapatkan. Kini semuanya punya kesibukan dan masalahnya masing-masing, sehingga kesempatan untuk bertemu sapa menjadi berharga bagi yang ingin mengingat kembali hari-hari emas itu. Sekedar mengingat, tak bisa kembali lagi kesana. Seperti yang Tarso bilang :

"Hari Senin nanti kita akan kembali ke kampus masing-masing."

Dan ditambah lagi oleh nyanyian si Iskandar di Minggu Pagi :

"Ke Jakarta Aku kan' kembaliiii. Walaupun apa yang kan' terjadiiii.."

Jumat, 21 Februari 2014

Wots... Uh The Deal

Ini post sambil lagu-laguan, kalo mau denger lagunya, Pink Floyd - Wot's... Uh The Deal, bisa kesini atau download sendiri.

--------------------------------------------

*Intro Guitar

Masa SMA memang masa yang paling indah. Apalagi buat saya, yang jarang belajar di kelas selepas dari kelas X. Bagi saya yang benar-benar mendidik saya sama sekali bukan sekolah, tapi perpustakaan. Ruang kelas itu penjara dan guru itu sipirnya, kalo kata John Nash di film "A Beautiful Mind" sih, kelas menghambat kreatifitas, dan ini benar- benar terasa buat saya, apalagi waktu kelas XI.

Saya memang ga cocok di kelas. Di kelas saya bertemu guru matematika, fisika, kimia, bahasa dll. yang ngatur ba-bi-bu dan juga ngasih tugas-tugas. Yah, saya tau itu menurut pada silabus yang dirancang buat membentuk siswa. Tapi saya lebih setuju sama gagasannya Roger Waters : "We don't need no thoughts control." tapi bukan berarti kita biarkan diri kita kosong dari pemikiran apa pun, kita punya kebebasan untuk memilih apa yang ingin kita pelajari. Dan kebebasan itu saya temukan di perpustakaan. Disana ilmu tidak menuntut, tapi mengajak kita untuk senantiasa berpikir. Saya kira malah itulah arti penting pembelajaran; sebuah ajakan tulus ke pintu-pintu yang memang kita belum pernah masuki dalam relung pengetahuan.

"Heaven sent the promised land
Looks alright from where I stand
'Cause I'm the man on the outside looking in"

Saya paling sering ke perpustakaan pagi-pagi, karena.saya sering terlambat, dan yang terlambat disuruh diam di perpustakaan. Ya alhamdulillah, saya malah jadi nyaman buat terlambat kalo aturannya seperti itu. Dari perpustakaan dan minat membaca tumbuh banyak guru-guru baru yang saya temui, seperti Niccolo Machiavelli, Umar Kayam, Mochtar Lubis, Pramoedya Ananta Toer, dan banyak lagi. Diantara mereka-mereka, yang paling berpengaruh buat saya di masa SMA ada dua, yang pertama Pram, dan yang kedua adalah Soe Hok Gie.

Seberapa pengaruh? besar. Mereka memberikan pandangan bahwa kebenaran, ilmu, dan pengetahuan adalah hal-hal yang indah. Perjuangan Minke di Tetralogi Buru dan Catatan harian Gie sebagai mahasiswa memberi pengaruh yang besar bagi saya. Bisa dibilang, saya mencoba mengikuti jejak langkah mereka. Ada memang yang terkorbankan dalam hal ini, mimpi saya untuk menjadi seniman terasa hambar. Saya lebih tertarik untuk memandang kedua orang itu, Minke dan Gie, dua duanya penulis. Minke adalah alter ego dari Tirto Adhisoerjo, pahlawan nasional di bidang pers. Gie, tulisannya yang tajam banyak dimuat di koran nasional masa itu. Dari mereka tumbuh mimpi baru, menjadi seorang Jurnalis. Tapi di mana? Minke pernah belajar di STOVIA sebentar, Gie di Universitas Indonesia. STOVIA dalam sejarahnya berubah jadi FKUI. Ya, saya harus kesana. Jurnalisme, di Universitas Indonesia.

"Waiting on the first step
Show where the key is kept
Point me down the right line because it's time"

Untuk itu pertama-tama saya harus lulus dari SMA. Dan saya lulus, dengan nilai UN MAFIKIBI yang buruk. Saya ga begitu peduli sebenarnya, yang penting langkah awal saya tempuh buat "the promised land."

Saya ga ikut undangan. Nilai senirupa di raport 69. Gara-gara saya ga ngumpulin tugas awal semester. Bisa memang buat dibenerin, ke gurunya waktu sebelum undangan. Tapi saya ga lakukan itu sebelum undangan, karena saya ga anggap tugas itu penting. Tapi pada akhirnya waktu hampir lulus dipaksa juga sama walikelas, daripada ribet lagi ya sudah lah.

Dari ga ikut undangan itu seengganya saya ga ada beban menunggu hasil. Saya fokus buat ngejar di ujian tulis. Setelah UN, saya naik Gunung Gede buat refreshing, sama Rijal, Farid, Cacun, Ading, dan Jadul. Nah, setelah refreshing itu saya punya waktu 2 bulan buat belajar IPS. Maka langkah selanjutnya saya ikut intensif di Inten. 2 bulan itu saya pakai buat nutup 3 taun yang dulu kering dan sia-sia.

"To let me in from the cold
Turn my lead into gold
'Cause there's chill wind blowing in my soul
And I think I'm growing old"

Les intensif juga kelas, dan kadang membosankan. Tapi apalah dua bulan buat empat tahun ke depan sederhananya. Pada pokoknya saya harus masuk Jurnalisme, dan itu di Universitas yang terbaik.Di baliknya memang ada ambisi tersendiri berdasar kejemuan dan harapan-harapan khusus. Jadi saya ikuti juga aturan mainnya, dan mencoba menjalaninya dengan kesenangan.

Waktu itu saya ke tempat les hampir selalu naik sepeda, kecuali kalau telat baru naik motor. Kesenangannya itulah, sambil main sepeda, kadang juga ga langsung pulang. Ambil jalan memutar ke Pengky atau tempat-tempat yang bisa membangunkan memori romantis. Bagi saya sendiri memang romantisme merupakan aspek penting perjuangan. Dia bisa memacu hasrat. Selain itu naik sepeda sekalian juga untun ngikutin perjuangan di film "Le Grand Voyage"; makin sulit jalan ditempuh, maknanya makin kerasa.

"Flash the readies
Wot's...uh the deal?
Got to make to the next meal
Try to keep up with the turning of the wheel.

Mile after mile
Stone after stone
Turn to speak but you're alone
Million mile from home you're on your own"

Kalau belajar itu mudah, maka apa artinya belajar? Gitu mungkin rasanya di dua bulan itu. Belajar itu tak mudah, banyak gangguannya. Belum lagi nilai-nilai Try Out yang masih jauh dari target. Kalau kata anak gaul Bandung sih, bikin merod.

Rasa bosan jangan ditanya. Selalu ada. Dan ia suka mengalihkan fokus kepada hal-hal lain. Saya bisa rasakan ketika dirumah harusnya waktu diisi dengan belajar materi yang belum dipahami, eh itu pemain saya di Football Manager manggil-manggil. Belum lagi Marlon Brando, Al Pacino, Robert De Niro, minta ditonton di tiga seri film The Godfather. Akhirnya apa boleh buat. Kalau dipaksa ga dipenuhi, ngebatin juga buat belajar.

"So let me in from the cold
Turn my lead into gold
'Cause there's chill wind blowing in my soul
And I think I'm growing old'"

Tapi pada akhirnya, setelah match-match menegangkan di FM, setelah drama drama ironis di The Godfather, saya ketemu juga dengan kesunyian di malam yang kosong. Dan kesunyian itu sebenarnya punya maksud baik. Ia mengajak diri kita untuk lebih reflektif. Ditengah kesunyian itu saya ngobrol sama diri sendiri, bahasa gaul anak komunikasinya "Komunikasi Intrapersonal", dan pada akhirnya saya kembali diingatkan pada tujuan saya untuk belajar.

"Fire bright by candlelight
And her by my side
And if she prefers we will never stir again"

Di lain pihak, saya juga selalu teringat. Di lain tempat ada juga yang sedang dalam perjuangan semacam. Ya, banyaklah memang anak baru lulus SMA ngejar ujian tulis. Tapi bukan beribu-ribu orang itu juga yang jadi bahan pikiran. Malah sebenarnya ini bukan soal pikiran, tapi perasaan, yang spesifik dan merujuk pada pribadi. Yang biasa jadi bahan semangat dan harapan, untuk menghibur diri dari kelelahan. Walaupun sebenarnya antara kita dan subjek perasaan itu terhampar jarak, pada lorong-lorong sunyi yang kala itu belum pernah saya masuki. Dan jarak itu seakan makin menjauh. Tapi saya tetap buat itu jadi bahan untuk kembali pada tujuan.

"Someone said the promised land
And I grabbed it with both hands
Now I'm the man on the inside looking out"

Pada akhirnya hari tes, ujian tulis SBMPTN dan Mandiri. Selain Universitas Indonesia, tak ada yang saya pilih. Dan Komunikasi jadi jurusan pilihan pertama di tiap tesnya, karena studi Jurnalisme ada di dalamnya. Jujur saya sangat ceroboh waktu ujian, pada soal-soal sejarah saya tak cermat, dan itu kembali membuat saya "merod".

Tapi akhirnya nasib berkata lain, di hari pengumuman saya diterima di pilihan pertama itu. Senang, ada, tapi ada juga hal lain yang membuat saya khawatir. Lalu setelah penerimaan itu proses administrasi di tuntaskan. Saya pindah ke Depok, dan bertemu juga dengan Universitas Indonesia yang kemarin-kemarin saya inginkan itu. Buku, Pesta, dan Cinta, jadi bayangan awalnya. Saya benar benar mengagumi slogan itu. Lebih dari Veritas, Probitas, Iustisia. Karena saya bisa melihat pada slogan itu mahasiswa sebagai intekektual dan kaum muda.

"Hear me shout "Come on in,
What's the news and where you been?"
'Cause there's no wind left in my soul
And I've grown old"

Dan kini, satu semester kemarin sudah saya lalui. Saya menemukan sedikit kesenangan untuk belajar di kelas bersama dosen. Tapi ada juga perasaan aneh hidup di tengah-tengah miniatur indonesia ini.

Sering saya buka kembali tulisan Gie di tahun pertamanya. Dan saya belum menemukan yang Gie temukan. Saya lebih sering melihat wujud-wujud yang menyerupai siswa baru di SMA saya. Ada memang diantaranya yang bisa saya terima, dan saya akui dia bisa jadi teman yang membangun, namun saya lebih sering merasa aneh disini.

Saya jadi teringat kata teman saya ketika berkomentar rencana saya pindah haluan ke Depok, "Yakin? Aku ga yakin lingkungan itu cocok buat kamu. Apalagi SosPol." dan dengan polosnya saya cuma menjawab "Aku kagum sama angkatan 66."

Istilah "The time's they are changin'" itu mungkin ada benarnya. Kata teman saya itu juga mungkin ada benarnya. Karena kadang, ketika saya sudah sampai disini setelah berjuang sebelumnya, malah saya dipertemukan kembali dengan kejemuan. Dan malah saya lebih sering kembali merindukan masa masa sekolah dulu, yang sebenarnya bukan diisi dengan sekolah. Juga pada teman-teman yang memang tumbuh besar bersama saya, yang juga melewati pergaulan dan proses yang sama. Ya, pada masa masa akhir itu saya memang terlalu melihat ke depan. Tanpa tahu sebenarnya apa yang menunggu disana. Melupakan apa yang akan saya tinggalkan di belakang. Karena itu sering juga saya pulang ke Bandung untuk mengisi kerinduan-kerinduan itu. Ada daripadanya momen pulang yang saya ingat. Salah satunya ucapan Tarso yang saya temui ketika pulang :

"Mungkin kita terlalu cepat tumbuh besar."

Entahlah So, mungkin kita saja yang tambah tua. Tapi tak kunjung dewasa untuk menerima.