Rabu, 15 April 2015

Dan Bandung



Dan Bandung bagiku bukan cuma, 
urusan wilayah belaka, 
lebih jauh dari itu melibatkan Perasaan, 
yang bersamaku ketika sunyi.

Saya memang punya hubungan yang sentimental dengan kota kelahiran saya, Bandung. Hal-hal kecil di dalamnya selalu saya maknai dengan perasaan. Ya, mungkin untuk beberapa orang berlebihan. Seperti halnya ketika saya rindu terhadap panorama itu, Tangkubanparahu dan Burangrang yang manis berdampingan di batas cakrawala Bandung Utara atau pada angin dinginnya yang sejuk membelai pipi ketika sepeda saya meluncur di jalanan Bandung sehabis hujan. Selalu ada saja hal-hal tak penting yang dapat dimaknai sebagai keindahan di Kota Bandung.

Dan tentu, bukan hanya soal kondisi geografisnya saja yang membuat saya merasa punya ikatan dengan Kota Bandung. Sebagai yang pernah menjalani hidup disana tentu ada hal yang lebih dari itu, yakni pengalaman. Potongan-potongan memori dari hari kemarin, baik yang manis maupun pahit. Semua kenangan itu memberikan warna dan rasa kepada saya pribadi ketika kembali pulang ke Kota Bandung; ketika melewati Jalan Braga yang dulu disusuri berdua, ketika kembali ke sekolah menengah atas tempat saya besar dan berulah bersama kawan, dan ketika tak sengaja melewati rumah teman-teman yang pernah menjadi tempat menginap sembari berbagi kesunyian bersama. Ya, kenakalan itu, romantisme itu, dan kesunyian itu.. semuanya membaur jadi kerinduan ketika sepi datang untuk saya yang kini tidak lagi setiap hari di Bandung.

Mungkin, Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum. Mungkin
(“Tuhan menciptakan tanah Priangan tatkala sedang tersenyum” - MAW Brouwer)


Saya kira saya tidak sendirian. Bandung sepertinya memang Kota yang memberikan kesan tersendiri kepada orang-orang yang pernah tinggal disana. ― maaf buat Bang Mimar, dosen saya di Jurnalisme, saya telah melakukan "dosa" dengan menggunakan frase "kesan tersendiri" tapi saya tidak tau lagi harus memilih kata apa untuk menunjukkan relasi Bandung dan orang yang tinggal disana. Ada orang bilang, Bandung adalah kota yang paling pas untuk jatuh cinta. Ya, saya sendiri setuju kepada orang yang berkata seperti itu dengan mengingat betapa banyaknya tempat "sederhana tapi indah" yang pas untuk dikunjungi untuk sekedar menghabiskan waktu berdua; warung pinggir jalan, kafe-kafe, perpustakaan, belum lagi sekarang dengan banyaknya taman kota sekarang. Juga dengan udara dinginnya yang menjadi perimbangan yang pas untuk kehangatan yang diciptakan pasangan romantis.

Bahkan, tak luput juga presiden pertama kita Ir. Soekarno terkena sihir oleh kota yang terletak di cekungan gunung sunda purba ini. Sang proklamator pernah berkata, ketika ia mendatangi kembali Kota Bandung yang dulu menjadi tempatnya menimba ilmu, bertemu istri pertamanya dan merintis pergerakan: "Aku kembali ke Bandung, kepada cintaku yang sesungguhnya.." begitu katanya. Mungkin benar apa yang Romo Brouwer bilang, bahwa Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum.

Mungkin saja ada tempat yang lainnya, 
ketika kuberada di sana, 
akan tetapi perasaanku sepenuhnya ada di Bandung, 
yang bersamaku ketika rindu, 
yang bersamaku ketika rindu..

Sekarang disinilah saya, di kota satelit ibukota. Meninggalkan Bandung dengan alasan menuntut ilmu, yang pada prakteknya lebih banyak bermalas-malasan. Beda kota, beda lingkungannya pula, dan saya mesti bisa menerima apa-apa yang ada disini tanpa banyak berdumel mengenai betapa aneh dan asingnya tempat yang saya tinggali kini. Sungguh berbeda dengan apa yang saya rasakan di Bandung. Tapi ya begitulah, pada akhirnya orang mesti bisa menerima, jalani saja. Toh kali-kali bisa pulang, toh nanti juga ada libur panjang, dan semua kerinduan itu akan terbayar tuntas. Ya, semoga.

Maka, biarkanlah perasaan itu tertinggal di Bandung, biarkan saja rindu itu selalu datang. Biar nanti ketika kita pulang, kerinduan itu bisa disambut dengan mesra dan kepulangan menjadi lebih bermakna.

*) Terimakasih buat surayah, lagunya bikin kangen sama Bandung.

Senin, 13 April 2015

Sakadang Kuya Dan Sakadang Monyet Curhat

Pada suatu hari yang tidak terik-terik amat dan sedikit berawan, Sakadang Kuya sedang duduk di bawah pohon jambu. Matanya terpaku kepada dedaunan yang gemerisik tertiup angin nun diatas ranting-ranting pohon. Ternyata dia lagi melamun. Pikirannya melayang-layang jauh ke atas, menembusi dedaunan itu dan awan-awan yang sedang berarakan. Di pikirannya yang sedang tinggi itu ada Sakadang Peucang, betina cantik yang tinggal di kampung sebelah. Konon katanya, kali ini Sakadang Kuya benar-benar jatuh hati kepada Sakadang Peucang..

"Heh Goblog..!!" Tiba tiba suara keras dari semak belukar memecah lamunan Sakadang Kuya.

"Heh, Si Anjing..!!" timpal Sakadang Kuya sambil sedikit kesal karena merasa terganggu.

"Har, ai kamu, aku mah da Monyet bukan Anjing." sahut Sakadang Monyet yang perlahan muncul dari lebatnya semak belukar.

"Euh da atuh kamunya ngeganggu aku. Udahlah, ada apa Nyet tiba-tiba kemari sambil ngegoblogin aku?" tanya Sakadang Kuya.

"Hayu atuh, kita main PS, di rumahnya si Alpin." ajak Sakadang Monyet

"Ah, ga mau akumah." kata Sakadang Kuya.

"Kenapa ai kamu malah gamau diajak main PS?" Sakadang Monyet heran terhadap jawaban Sakadang Kuya.

"Kamu mah bohong, si Alpin mah ga punya PS. Dia mah anak ITB, kerjaannya juga siang hari belajar, terus sore sampe ka malem dia rapat himpunan!" tegas Sakadang Kuya.

"He he he, kamu tau aja dee.." kata Sakadang Monyet sambil nyengir, di giginya terlihat begitu mencolok ada sepotong kulit cabe yang nyangkut.

"Malah ketawa.. Itu ai kamu, di gigi ada cabe" Sakadang Kuya mencoba memberitahu Sakadang Monyet

"Hehe, iyah aku tau. Tadi abis makan nasi padang." kata Sakadang Monyet

"Oooh, gitu.." kata Sakadang Kuya

Akhirnya, di bawah pohon jambu itu kini ada dua ekor makhluk yang berleha-leha: Sakadang Kuya dan Sakadang Monyet. Mereka berdua saja ngobrol ngalor ngidul, mulai dari obrolan tentang teori relativitas Einstein, buku-buku eksistensialis, ajaran majusi, sampai ke obrolan mengenai gambar porno yang kemarin disebar sama Sakadang Maung di tongkrongan anak-anak geng motor. Lalu, tiba-tiba angin sore hari dan matahari senja yang mulai turun di ufuk barat membawa suasana melankolis diantara mereka. Pada kesempatan yang syahdu seperti itu, langsung saja Sakadang Kuya membuka kartu..

"Nyet-Nyet.." kata Sakadang Kuya malu-malu.

"Apah?" timpal Sakadang Monyet.

"Kamu pernah jatuh cinta ga?" lanjut Sakadang Kuya

"Eh, ko nanya gitu sih? kamu suka yah sama aku?" kata Sakadang Monyet sambil sedikit tidak nyaman.

"Ih kamu mah suka kegeeran gitu. Bukan ai kamuu." Sakadang Kuya mencoba menjelaskan.

"Kenapa atuh? tumben kamu nanyain cinta-cintaan kaya gitu" Sakadang Monyet mulai penasaran..

"Aku teh kayanya lagi jatuh cinta siah. Percaya gak kamu?" kata Sakadang Kuya

"Ah, yang bener. Kamu mah terakhir pacaran juga iseng." Sakadang Monyet sedikit meragukan..

"Ya gak tau atuh, da aku juga gak tau jatuh cinta teh kaya gimana. Emang, sebenernya kaya gimana sih Nyet?" tanya Sakadang Kuya

"Ya... gimana yah. Susah atuh da dijelasin juga.." Sakadang Monyet kebingungan, seketika ia teringat sama mantannya: Sakadang Bajing yang sekarang sudah jadi model kotak sabun.

"Ko muka kamu jadi murung gitu sih, ga sukaa.." ujar Sakadang Kuya

"Engga, gapapah.. pulang yu ah udah mau malem." Sakadang Monyet pun berdiri dari tempat duduknya, ia terlihat hendak pergi dari bawah pohon jambu itu.

"Aku nginep atuh di rumah kamu?" Sakadang Kuya ternyata masih belum puas dengan curhatannya

"Tapi kamu nanti tidurnya di lantai atuh yah, aku kasih bantal deh." Sakadang Monyet memberi tawaran.

"Iyah atuh sok,," Sakadang Kuya menerima tawaran itu.

Akhirnya dua sekawan itu berjalan pulang berbarengan. Sakadang Monyet yang seharusnya bisa berlari cepat harus rela berjalan lambat-lambat karena langkah Sakadang Kuya yang pelan-pelan. "Gapapalah.." ujar Sakadang Monyet dalam hatinya "Jalan pelan-pelan bisa sambil nikmatin bintang..". Akhirnya, mereka sampai ke rumah Sakadang Monyet. Di ruang tamu ada Pak Monyet dan Bu Monyet, mereka berdua sun tangan. Sama Bu Monyet ditawarin makan bronis, tapi katanya Sakadang Kuya gak suka bronis. Yaudah, mereka berdua lalu bergegas masuk ke kamar Sakadang Monyet.

Kamar Sakadang Monyet ga begitu besar, tapi keitungnya pas buat ukuran kamar tidur. Di tembok belah kanan ada poster pemimpin revolsi kuba, Che Guevarra. Di tembok belah kirinya terbentang bendera yang warnanya dominan merah-biru, bukan bendera klub bola Barcelona, tapi bendera Korea Utara. Kasurnya cuma satu, tapi empuk, waktu masuk Sakadang Monyet langsung rebahan disana. Sakadang Kuya juga pengen rebahan, tapi sayang kasurnya terlalu kecil, yaudah akhirnya Sakadang Kuya mesti rela duduk bersila di lantai.

"Sok atuh, gimana?" kata Sakadang monyet

"Jadi, Nyet, aku teh lagi suka sama Sakadang Peucang. Itu loh, betina dari kampung sebelah yang sekolahnya di SD Inpres." Sakadang Kuya mulai bercerita..

"Serius? kamu teh yang bener ah. Masa orang kaya kamu ngeceng jelita kaya dia??" Sakadang Monyet mencoba memperingatkan.

"Ai kamu, emang kenapa gitu kalo aku ngeceng Sakadang Peucang?" Sakadang Kuya pun heran..

"Ya kamu teh nyadar atuh, yang deketin dia teh banyaak.. itu coba, siapah itu teh, anaknya Mang Kosim juragan peyeum juga ngedeketin dia ai kamu!" kata Sakadang Monyet

"Ooh, si Laleur? iyah sih, dia juga suka ngegodain dia aku liat teh. Tapi gimana atuh Nyet da aku teh udah terlanjur cinta sama dia.." ujar Sakadang Kuya sambil memasang muka memelas..

"Kamu teh atuh, jangan kehatean dulu kaya gitu.. nanti nyesel siah kalo ga jadi. Terus emang, kamu emang udah kenalan gitu sama si eta?" tanya Sakadang Monyet.

"Udah." jawab Sakadang Kuya.

"Terus?" Sakadang Monyet bertanya lagi.

"Ya gitu aja, kemarin ketemu di warung Bi Icih akunya ga di waro sih.." Sakadang Kuya pun menjadi sedih..

"Tuh kan.." kata Sakadang Monyet ketus

"Gimana atuh?" tanya Sakadang Kuya muskil..

"Nyerah aja atuh" Sakadang Monyet mencoba membujuk temannya.

"Masa nyerah, kata Si Oray cinta teh perjuangan?" Sakadang Kuya ternyata masih enggan menyerah.

"Gimana lagi atuh sok?" tanya Sakadang Monyet

"Iya sih, bener juga.." kata Sakadang Kuya dengan nada lesu, seperti orang kehilangan harapan.

"Iya udah, udahan aja.." timpal Sakadang Monyet dengan nada merendah

"Hmm masih bingung aku teh. Terus, ai kamu tadi kenapa mukanya tiba-tiba murung Nyet?" tanya Sakadang Kuya sambil mencoba mengganti topik

"Inget mantan.." kini gantian Sakadang Monyet yang menjadi lesu

"Har, mantan kamu? Sakadang Bajing yang sekarang jadi model kotak sabun??" tanya Sakadang Kuya penasaran

"Iyah, sieta, kaduhung* dulu aku putusin.." lanjut Sakadang Monyet lesu. (Kaduhung : Nyesel)

"Kenapa malah kaduhung gitu ai kamu?" tanya Sakadang Kuya

"Sebenernya masih sayang.." jawab Sakadang Monyet

"Yah.. kenapa atuh malah putus?" Sakadang Kuya mencoba bertanya lebih dalam

"Ya gitulah" jawab Sakadang Monyet enggan.

"Kenapa ih?" Sakadang Kuya mendesak

"Gitu deh, selingkuh.." kata Sakadang Monyet

"Kamunya apa dianya?" tanya Sakadang Kuya lagi

"Dianya, sama Sakadang Entog reman Pasar Andir.." jawab Sakadang Monyet, yang sebenarnya enggan mengenang.

"Oh gitu.." ucap Sakadang Kuya

"Iya, gitu." timpal Sakadang Monyet

"Nasib yah Nyet kita teh?" tanya Sakadang Kuya

"Udah ah gausah dibahas, tidur aja.." kata Sakadang Monyet beranjak dari kasur menuju saklar, mematikan lampu kamarnya.

"Euh kamu mah.." Sakadang Kuya kecewa

"Dah, aku mau tidur. Besok ada tanding futsal sama gengnya Si Landak.." Sakadang Monyet kembali ke kasurnya, tidurnya menyamping memunggungi muka Sakadang Kuya..

Malam itu kemudian sepi, Sakadang Kuya tidak bisa tidur. Dia pandangi langit-langit kosong yang kini bergambar wajah Sakadang Peucang, pujaan hatinya. Diam-diam dia masih sedikit berharap, walau harapannya itu sangatlah kecil. Sakadang Kuya tidak tahu betul apa yang mesti dia lakukan, semalaman ia terpaku saja pada langit-langit sambil membayangkan hal-hal indah yang mungkin bisa ia lakukan kalau Sakadang Peucang bisa menjadi kekasihnya, dadanya menjadi terasa hangat, entah oleh apa.

Namun di sela-sela lamunan yang memabukkan itu, Sakadang Kuya mendengar sebersit suara. Suara yang terisak-isak, namun pelan. Suara itu berasal dari atas kasur tempat temannya berbaring. Oh, itu suara Sakadang Monyet kata Sakadang Kuya dalam hati menyimpulan. Sakadang Kuya jadi terbayang, apa dulu Sakadang Monyet merasakan rasa hangat yang ada di dalam dadanya kini? Ya, mungkin. Kemudian ia bertanya lagi, akankah Sakadang Kuya sendiri nanti akan berakhir seperti Sakadang Monyet yang terisak pelan di malam yang sunyi karena kegagalan cinta? Ya, mungkin.

"Semuanya mungkin, semuanya mungkin.." pikir Sakadang Kuya.

Dan akhirnya, malam itu jadi malam yang sentimentil bagi Sakadang Kuya. Sampai akhirnya pagi datang, Si Landak nyampeur ke rumah Sakadang Monyet untuk mengajak mereka futsal. Tapi Sakadang Kuya tidak ikut, ia ngantuk karena semalaman terjaga..

Minggu, 14 Desember 2014

Yellow Submarine: Warna Warni dan Melayangnya Iskandar Agung

Suatu pagi ―saya lupa tepatnya pada tanggal berapa― sebangun tidur seperti biasanya saya langsung memeriksa layanan chat Line. Ternyata ada pesan masuk dari kawan satu divisi saya dulu di PKSR Rancang Bangun (PKSR RB), Iskandar Agung. Isi pesannya menarik, tapi membingungkan. Begini kira-kira yang Iskandar bilang di jendela chat waktu itu:

"Jul, aing akhirnya ngerti maksud film Yellow Submarine. Jadi itu teh maksudnya tentang sebenernya ga ada warna yang salah..."  (Sebenarnya masih lebih panjang, tapi karena saya sendiri ga paham lanjutannya. Mari kita fokus ke pesan yang satu ini)

Membaca chat dari si Iskandar itu saya cuma nyengir, dan berpikir bahwa malam ketika Iskandar kirim pesan itu ia sedang "melayang" sambil nonton film Yellow Submarine. Firasat saya ternyata benar, tak lama setelah saya balas pesan tersebut dengan tawa dan bertanya kenapa tiba-tiba bicara Yellow Submarine, Iskandar minta maaf karena pesan tersebut dia kirim waktu "melayang".

Pertama kali saya nonton film Yellow Submarine adalah waktu SMA kira-kira waktu kelas XI awal, tahun 2011 akhir. Waktu itu saya nonton lewat Youtube, dan tidak mencermati sampai kepada makna film tersebut. Ketika itu saya hanya coba memahami alurnya, menikmati musiknya, dan mencoba mencari inspirasi dari aspek visual film tersebut yang mungkin dapat di adaptasi kedalam bentuk dekorasi yang biasa saya kerjakan di ekskul biru donker.

Yellow Submarine, sumber: http://thekey.xpn.org



Kini, 3 tahun lewat, saya coba kembali tonton film karya The Beatles dan George Dunning tersebut. Tidak ada maksud khusus sebenarnya, hanya mencoba melepas penat setelah buat paper untuk ujian akhir semester matakuliah Pengantar Jurnalisme. Sekalian juga, mencoba memahami pesan yang dikirim si Iskandar Agung ketika melayang beberapa hari ke belakang.

Film yang di rilis pada tahun 1968 ini bercerita tentang suatu tempat yang bertempat 80.000 liga dibawah laut, Pepperland. Narator di awal film mendeskripsikan Pepperland sebagai sebuah "unearthly-paradise" yang digambarkan secara visual sebagai tempat yang warna-warni, bergapura pelangi, dan menggunakan kata LOVE sebagai pesan selamat datangnya. Ya, kehidupan di Pepperland memang berwarna dan penuh cinta. Musik juga merupakan hal yang sangat penting di surga bawah laut itu, penduduk Pepperland mendapatkan energinya dari musik yang dimainkan oleh sebuah kelompok band bernama "Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band."

Namun, canda-ria riang-tawa di Pepperland ternyata tidak berlangsung lama. Seperti kisah klasik The Legend of Aang, semuanya berubah ketika sekelompok makhluk biru bernama "Blue Meanies" menyerang. Kehidupan Pepperland dibuat porak-poranda oleh senjata dan serangan-serangan dari Blue Meanies. Pepperland yang asalnya warna-warni, berubah menjadi kelabu. Warna yang tersisa hanyalah warna biru sebagai atribut para Blue Meanies. Tapi ternyata, tidak semua penduduk Pepperland dibuat menjadi kelabu dan seolah mematung. Seorang tua, bernama Fred (kadang disebut Young Fred/Old Fred) melarikan diri dari Pepperland menggunakan sebuah kapal selam berwarna kuning. Itulah Yellow Submarine. Bersama Yellow Submarine Fred pergi ke Liverpool untuk meminta bantuan dari The Beatles, dengan maksud agar menghidupkan kembali kehidupan di Pepperland lewat musik yang mereka bawakan.

Dengan mencermati kembali hubungan antara Pepperland dan serangan dari para Blue Meanies, akhirnya saya bisa menangkap apa yang sebenarnya Iskandar Agung coba katakan kepada saya. Pesan yang ia kirim dalam keadaan "melayang" itu ternyata tidak ngawang ketika di crosscheck ulang.

Saya kira benar, di film Yellow Submarine unsur warna sebagai simbol merupakan hal yang penting. Di pelatihan dasar PKSR RB dulu, senior saya dan si Iskandar mengajari kepada kami bahwa divisi tempat kami bernaung, Divisi Warna, memiliki tugas untuk memberikan identitas kepada sebuah dekoran. Tiap warna memiliki kesannya sendiri, seperti merah untuk berani, kuning untuk ceria, dan putih untuk suci. Melalui warna kita bisa mencoba untuk paham apa yang pembuat film coba untuk sampaikan kepada audiens. Melalui warna, kita bisa memahami "Identitas" apa yang dilekatkan kepada suatu teks.

Walikota Pepperland Bermain Musik, sumber: photobucket

 Pepperland, beserta seluruh isinya digambarkan dengan sangat berwarna. Secara kasar, kita bisa bilang warnanya nabrak-nabrak. Warna merah tiba-tiba ketemu biru muda, warna hijau dihajar warna pink. Namun ada kesamaan diantara semua warna yang nabrak tersebut. Warna-warna yang di pilih adalah warna cerah. Dari pemilihan warna untuk Pepperland saya melihat sebuah kesan, bahwa Pepperland merupakan tempat yang diisi oleh berbagai macam orang, berbagai macam ide, berbagai macam sifat dan mereka sadar, mereka tidak dapat melebur menjadi susunan warna yang analogous (analogous dalam harmonisasi warna berarti bersandingnya warna senada, contoh: oranye-kuning kemerahan-kuning.) tetapi dari keberagaman tersebut mereka dapat hidup bersama membangun sebuah dunia yang penuh "cinta". Pada intinya, dengan penggunaan warna secara beragam pembuat film ingin menunjukkan adanya keanekaragaman dalam kehidupan di Pepperland.

Blue Meanies, sumber: fartoonsblog.blogspot.com

 Blue Meanies sendiri dari segi pewarnaannya secara relatif lebih menggunakan warna biru secara analogous. Mereka adalah sebuah kaum yang memiliki persamaan secara identitas, disimbolkan oleh identitas warna biru pada tiap-tiap anggota kelompoknya. Warna biru sendiri sering dikaitkan dengan ekspresi kesedihan. Sebutlah lagu "Pretend" karya Nat King Cole, liriknya yang berbunyi "Pretend you're happy when you're blue.." mengajak kita berpura-pura senang untuk membuang kesedihan atau tentang bagaimana sejarah doraemon, kucing robot yang seharusnya berwarna kuning berubah warnanya menjadi biru, kuningnya luntur setalah ia menangis karena kupingnya rusak digigit oleh seekor tikus. Dari sana, kita bisa menyimpulkan bahwa Blue Meanies bersama warna birunya menyimbolkan sebuah kaum yang mencoba menyebarkan kesedihan kepada seantero Pepperland.

Lewat adegan penyerangan Blue Meanies terhadap Pepperland, saya menangkap bahwa sang produser ingin menyampaikan kepada kita bahwa ditengah kehidupan, yang berisi berbagai macam manusia dan kebudayaan, sering terdapat upaya-upaya penyatuan. Penyatuan di tengah keberagaman mungkin punya maksud baik, yaitu solidaritas. Namun sejarah pun banyak bercerita pada akhirnya penyatuan sering menjadi keuntungan yang hanya untuk pihak-pihak dominan, baik secara kekuatan fisik maupun ide. Kebenaran yang ada pun seringkali disandarkan kepada ide-ide kaum yang mendominasi. Ide yang tidak sejalan dengan golongan, akan di nilai salah. Mungkin, itulah mengapa dalam film Yellow Submarine ketika Blue Meanies berkuasa ia membuat warna-warna lain menjadi kelabu. Disana Blue Meanies membuat sebuah dominasi, membiarkan warna yang "hidup" tinggal warna biru. Warna identitas miliknya.

Mungkin itulah, apa yang Iskandar maksud dengan "Tidak ada warna yang salah", saya mengartikannya menjadi "Keberagaman bukan suatu hal yang mesti disalahkan". Ya, memang jika berkaca di Indonesia sendiri keberagaman sering menjadi awal dari sebuah konflik dan bahkan, di tingkat para terpelajar pun perbedaan pemahaman dan ideologi yang dipegang seringkali jadi bahan pertengkaran. Keberagaman dalam suatu kelompok akan memberikan potensi perpecahan, ikatan di dalam kelompok-kelompok kecil bisa jadi lebih kuat dan saling bergesekan satu sama lainnya.

Tapi konflik, pertengkaran, perpecahan, sebenarnya bisa di hindari. Di tengah pertikaian, kita sering lupa bahwa diluar identitas yang di buat (bahasa anak UI: dikonstruksi) toh kita adalah manusia biasa. Tak bisakah kita menaruh perhatian sejenak untuk belajar memahami sesama?

Mari kita mulai dengan mencoba tetlebih dahulu memahami nyanyian John Lennon ketika menyelamatkan Pepperland di film Yellow Submarine, John bilang:

"All you need is Love, Love, Love is all you need.."

Dinihari, 15 Desember 2014, ditengah kejaran deadline UAS Takehome Pengantar Kajian Media.

Rabu, 29 Oktober 2014

Pasar Malam

Sabtu kemarin, tanggal 25 Oktober 2014, saya bertemu dengan Alvin dan dua kawan lain dari Planologi ITB (Plano) di Kota Jakarta. Pertemuan di hari itu sebenarnya tak ada maksud dan tujuan formal apapun, hanya sekedar main, terutama bagi mereka anak-anak Planologi ITB yang sedang dapat kesempatan libur bebas dari kegiatan Ospek Jurusan (OSJUR).

Hari itu yang kami banyak lakukan hanya berbincang dan berputar-putar saja di pusat kota; mengamati Jakarta yang selalu memberikan kesan sebagai kota yang sarat dengan optimisme pemikiran modern. Mengamati hutan-hutan beton yang dibangun untuk mencakar rahang-rahang langit; tempat dimana orang mencoba menggapai kaki-kaki mimpinya yang tergantung pada langit-langit harapan. Sebelum mungkin, pada akhirnya dikecewakan. Ya, selalu ada perasaan-perasaan asing yang terkadang menimbulkan kesan kagum sekaligus ngeri ketika saya memandangi pemandangan Kota Jakarta.

Sampai akhirnya senja datang dan mentari tenggelam, kami harus kembali ke Stasiun Gambir. Alvin dan Nisa mesti mengejar kereta ke Bandung pada pukul 19:50. Mobil pun di gas menuju stasiun besar tersebut. Ketika itu kami sampai di Gambir pada pukul 19:00, dan seperti biasa tabiat Alvin sebagai turis kumat, ia ingin membawa sesuatu dari Jakarta untuk dibawa pulang ke Bandung, ia ingin gantungan kunci monas katanya. Akhirnya, dari parkiran mobil Gambir pun kami putuskan untuk masuk ke area Monumen Nasional untuk mencari gantungan kunci yang Alvin inginkan.

Bertepatan dengan waktu malam minggu, ternyata di sekitar monas sedang digelar semacam pasar malam, lengkap dengan tukang jualan dan badut-badut kostumnya. Perasaan yang berbeda muncul ketika saya memasuki dan berjalan melewati pasar malam tersebut. Tidak seperti sebelumnya, kini saya merasakan suatu suasana yang lebih akrab. Suatu pertemuan dengan kawan lama yang berapa kurun tak jumpa. Kaki-kaki lima itu, tawar menawar itu, dan cahaya-cahaya neon yang tidak tertata itu. Hiruk-pikuk pasar malam itu benar-benar menenggelamkan saya kepada ingatan-ingatan yang telah lama tersimpan dan jarang saya buka. Bahkan, ia mengembalikan saya kepada memori-memori termuda saya.

Sebagai seorang bocah yang tinggal di pinggiran Kota Bandung, saya sering di hibur oleh yang namanya pasar malam. Agak berbeda mungkin dengan yang di monas, pasar malam yang dulu menghibur saya selain penuh dengan pedagang, disana juga banyak berbagai wahana bermain. Seperti karosel, rumah hantu, kincir putar, tong setan, dan entah apalagi. Pasar malam dulu sering diadakan di lapangan parkir depan Pasar Induk Caringin, yang letaknya mungkin hanya beberapa ratus meter dari rumah nenek saya dan 1 km dari rumah buyut saya, tempat waktu itu saya tinggal. Saya ingat ketika itu, pasar malam di pasar induk selalu menjadi hal yang diiming-imingkan oleh orangtua dan kakek-nenek saya agar saya berperilaku baik. Kalau saya berbuat hal-hal jelek, mereka tidak akan mengajak saya kesana dan saya akan ditinggal di rumah sendirian. Tentu sebagai anak kecil berumur 2-3 tahun dulu saya menurut saja dan membayangkan betapa asyiknya jika saya dibawa ke pasar malam. Dari potongan-potongan kenangan mengenai pasar malam itu, yang paling bisa saya ingat hanyalah ketika saya menaiki wahana kincir, bersama ayah saya.

Semakin saya bertumbuh, pun kehidupan saya ternyata tidak jauh-jauh amat dari pasar malam. Ayah saya bekerja pada suatu Event Organizer, biasa menyediakan jasa di sektor pemerintahan untuk membuat sebuah pameran yang membantu promosi usaha-usaha kecil dan menengah. Karena itu, tak jarang pameran-pameran tersebut diadakan di daerah-daerah dan kota kecil seperti Tasikmalaya, Garut, Ciamis, dan Subang, tempat dimana usaha-usaha kecil dan menengah itu tumbuh. Namun, permasalahannya jika hanya dengan pameran dan mungkin panggung hiburan, akan sangat sedikit pengunjung yang datang. Mengingat minat bisnis mungkin di kawasan-kawasan seperti itu tidak memiliki animo yang tinggi. Oleh karena itu, ayah saya membuat sebuah pemecahan masalah untuk menarik pengunjung. Pemecahan masalah itu adalah memberikan ruang hiburan yang menarik banyak orang: Pasar Malam.

Jadi, bagi saya ikut ke tempat ayah saya bekerja sama saja dengan pergi ke pasar malam. Bertemu kembali dengan pancaran lampu petromaks tukang kacang, tukang gulali, wahana-wahana permainan, dan kadang copet yang ketahuan lalu di pukuli. Karena itulah, saya lebih menganggap ayah saya sebagai seorang pembuat pasar malam, bukan sebagai kepala dari event organizer. Karena ketika dulu saya sering ikut ke lapangan tempat ayah saya bekerja pun, saya lebih banyak menghabiskan waktu di pasar malam dibandingkan di tempat utama pamerannya. Darisanalah kedekatan dengan pasar malam terjalin. Bukan hanya soal tempat dan wahana, tapi juga dengan kehidupan sosial yang ada di dalamnya.

Pasar malam memang cenderung menjadi tempat hiburan bagi orang-orang kelas menengah sampai ke kelas menengah ke bawah. Dan memang, wahana permainan, produk-produk yang dijual, bila dibandingkan kualitasnya dengan apa yang ada di tempat-tempat seperti mall tentu akan sangat berbeda. Disana para pedagang baju mengobral barang jualannya di sekitar harga 10-30 ribu rupiah, itu pun masih sering terjadi proses tawar-menawar harga yang biasanya terjadi jika pembeli melakukan borongan. Kincir putar, karosel, tong setan, dibuat dengan sederhana dari besi-besi dan seng yang di cat dengan warna yang sebenarnya bisa dibilang norak dan tidak harmonis. Mungkin bagi beberapa kelompok orang, pasar malam bukanlah tempat yang layak untuk menghibur dirinya.Ya, pasar malam memang tidak banyak bicara tentang kualitas dan standar yang tinggi. Ia hanya ingin menjawab secara praktis kebutuhan-kebutuhan yang mesti dipenuhi oleh orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Memberikan jawaban bagi kerinduan-kerinduan untuk tersenyum sejenak bersama orang-orang yang di cintai. Dengan cara menampilkan hiburan yang sederhana.

Pada hiruk-pikuk pasar malam yang sangat sederhana itu pun, toh saya bisa melihat senyum-senyum melengkung diantara mereka yang mengunjunginya. Seperti tawa dari anak-anak kecil yang menunggangi kuda-kuda mainan pada putaran karosel, wajah-wajah kesenangan dari mereka yang diberikan permen kapas oleh orangtuanya, dan juga wajah-wajah bahagia dari para bapak dan ibu yang melihat anak-anaknya kegirangan. Mungkin wajah-wajah itu juga pernah ada pada ketika saya kecil dulu dan pada orangtua yang mengantar saya ke pasar malam. Wajah-wajah yang datang dari kebahagiaan pasar malam. Kebahagiaan yang sederhana; yang tak dapat diukur dari nilai materinya.

Malam itu saya benar-benar dibawa kembali pada kenangan lama oleh pasar malam yang tak sengaja saya datangi. Pasar malam yang juga sudah lama tidak saya kunjungi karena kesibukan dan konsep-konsep kebahagiaan yang kian terseret dan bergeser oleh kehidupan modern atau meminjam istilah Alvin, "Kekinian". Ya, bagi saya kehidupan kekinian yang di maksud Alvin itu sesungguhnya adalah kehidupan yang banyak menuntut. Secara ekonomi, sosial, dan kultural. Kebahagiaan yang dikonstruksi kepentingan ekonomi, pergaulan yang banyak timbang-menimbang modal simbolik sebagai instrumen pembeda kelas, dan budaya yang dipenuhi nilai-nilai klise dan kosong. Sementara di pasar malam yang tak begitu teratur ini saya bisa bernapas lebih lega; dengan udara Jakarta yang lembab dan mencekik.

Minggu, 14 September 2014

Yang Tinggal dan Meninggalkan Sesuatu

“Aku memang mengambil judul tersebut dari suatu bab komik ninja Naruto, maafkan bila memang kebetulan kamu tahu perihal pengambilan judul l ini dan merasa konyol karenanya..” 

Takdir memang tak selalu baik bagi seseorang yang mencinta. Kita mungkin pernah mendengar kisah-kisah indah tentang cinta dari negeri-negeri nun jauh disana, yang oleh para penutur dan penulisnya dibumbui berbagai macam gambaran kebahagiaan; pelukan mesra, kecupan manis, janji sehidup semati sepasang kekasih, atau tentang cinta yang hilang lalu kembali pulang. Tapi toh, disisi lain kita juga bisa temukan kisah-kisah pahit mengenai cinta, sebuah dunia yang berbeda dari kisah yang disebutkan sebelumnya. Jika tadi kita bisa membayangkan tentang langit biru dan bunga-bunga yang merekah, pada kisah-kisah ini yang kita temukan mungkin adalah gerimis yang kelam bersama pepohonan sekarat yang masih saja mencoba untuk mempertahankan hidupnya. Sebutlah, kisah tentang Majnun yang menjadi gila karena dipisahkan dengan kekasihnya Layla atau Zainuddin yang mesti kehilangan Hayati karena menikah dengan pria lain dan pada akhirnya mati tenggelam bersama Kapal Van Der Wijck. Ya, darisana kita bisa merasakan kebenaran dari apa yang Pram pernah tulis; bayang-bayang cinta adalah derita.

Agama Islam memang mengajarkan bahwa segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan. Sehingga kita sering mendengar istilah: jodoh di tangan Tuhan. Aku pun tidak menyangsikan hal tersebut. Tapi kita pun tahu kalaupun urusan tersebut telah diatur oleh Yang Maha Kuasa, kita sesungguhnya tak akan pernah tahu siapa pada yang pada akhirnya akan hadir dan menjadi teman hidup kita sebelum waktu yang nantinya akan memberikan jawaban. Dan dalam perjalanannya berkutatlah kita pada malam-malam dimana kita mengusut rahasia demi rahasia tentang “Si Dia” yang di janjikan.

Sudjiwo Tejo pernah bilang; Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tp tak dapat kau rencanakan cintamu utk siapa. Aku tak tahu apa aku bisa percaya perkataan itu atau tidak karena memang jalan yang aku lalui belum sampai kepada penjara bernama pernikahan itu. Tapi setidaknya perkataan itu dapat membawa kita kepada pertanyaan-pertanyaan yang menarik: Apa yang akan terjadi jika kita memang terjebak pada suatu pernikahan yang tidak terdapat cinta dari dalam diri kita? Apakah kita akan bertahan atau lari? Apakah akan datang kebahagiaan darinya? Kira-kira begitu. Bagiku sendiri segala jawaban dari pertanyaan itu adalah spekulasi, jika aku mendapatkan jawaban-jawaban dari orang-orang yang memang belum pernah melalui situasi terkait. Termasuk dari hati dan pikiranku sendiri. Tak adil juga rasanya jika kita menilai apa yang sebenarnya belum kita ketahui.

Panta rhei; semuanya mengalir. Mungkin akan lebih adil jika memang kita biarkan semuanya mengalir. Tapi nyatanya dalam deras arus senantiasa bebatuan memecah. Ketika suatu masa yang kosong dan kita biarkan hidup mengalir dengan sendirinya, kita tak jarang sejenak terpaku pada hal-hal yang membuat kita berpikir ulang; apakah memang hidup ini akan mengalir begitu saja dengan sendirinya membawa kita ke suatu tujuan yang kita terima begitu saja ataukah kita dapat memberikan determinan-determinan tersendiri agar kita dapat menentukan sendiri kemana arus akan mengalir? Dalam hal ini tentu konteks tujuannya adalah soal cinta dan perjodohan.

Pikiran yang sentimental itu senantiasa hadir bersamaan dengan tamu yang tak diundang; Kenangan. Ya, dia adalah tamu kurang ajar yang dapat seenaknya saja melintas di pikiran dan perasaan kita; bersembunyi dan tersimpan diantara gelas-gelas kopi di sudut kafe, pada harmoni nada-nada musik rock klasik, atau pada tiket bioskop yang tak sengaja kita temukan terselip di sela-sela dompet. Semua itu membawa kita kembali kepada momen-momen yang telah lama tertinggal di belakang; momen penuh harapan yang sekarang kita rindukan. Menjebak kita kembali pada romansa-romansa bersama seseorang yang tak lagi tinggal, tapi meninggalkan sesuatu. Lalu kita mencoba kembali untuk menganggap semuanya mengalir, tapi tak mudah. Aroma kopi itu terus merayu untuk kembali, nada-nada itu terus melantunkan kisah lama, dan tiket bioskop itu memutar kembali cerita-cerita lama yang kita kira sudah lewat. Sampai pada akhirnya kita meragukan bahwa semua dapat dengan begitu saja mengalir; dan kita memutuskan untuk tinggal.

Orang-orang mulai banyak membicarakan; ada banyak ikan di laut, ada kebahagiaan tersembunyi di tempat-tempat lain, tapi itu semua tidak berlaku untuk mereka yang tinggal. Entahlah istilahnya apa, mungkin benar jika di bilang ia yang tinggal adalah orang yang memenjarakan dirinya sendi ri dalam kenangan. Tapi mungkin lebih tepat jika mereka yang tinggal dipahami sebagai para narapidana yang dengan sukarela masuk kedalam penjara tersebut. Mereka memilih, mungkin merasa nyaman. Dan kenangan-kenangan yang menjadi jeruji itu bukan cuma besi melintang yang dingin, tapi bagi mereka padanya terukir hal-hal yang indah namun ironis; yang membuat mereka terkadang sedikit menyunggingkan senyum dan tak lama kemudian membuat mereka kembali tertunduk, lalu mencari tempat yang paling nyaman untuk berbaring di sudut-sudut penjara itu; sambil menunggu ia yang meninggalkan sesuatu kembali pulang.

Dan entah sampai kapan, ia yang tinggal akan menunggu disana..

Selasa, 03 Juni 2014

Sehabis Sabung Ayam

Siang bolong itu langit nampak cerah. Mentari mengkilat kuning tepat diatas kepala, ditemani awan putih yang perlahan berarak ditiup angin musim panas. Sekilas pada hari yang cerah itu alam Desa Joyokerto terasa indah. Pada sayup-sayup suara alam itu terselip juga cicitan burung-burung kecil yang melayang diatas gubuk kecil di pinggiran hutan karet. Tempat dua orang penyadap beristirahat menyantap bekal yang isinya itu-itu saja, nasi, tahu, tempe, terkadang ditambah ikan asin atau telur.

"Ta, boleh kau bagi tempe punyamu itu denganku? nasiku belum habis tapi lauknya sudah."

"Ambil saja Yus."

Yus dan Ata adalah dua orang penyadap karet, sekaligus tetangga di lingkungan Desa Joyokerto. Semenjak kedatangan Ata ke desa tersebut dan mencoba mengadu nasib menjadi penyadap karet, pekerjaan yang juga digeluti oleh Yus, mereka berdua menjadi semacam kawan seperjuangan dalam mencari nafkah di kebun karet. Bahkan, karena rumah mereka jaraknya dekat keluarga mereka pun saling mengenal dan berhubungan dekat. Minah, istri Yus, mengenal baik Salma, istri Ata. Begitu pun dengan Haen, anak dari pasangan Ata dan Minah, ia adalah kawan Indra yang rutin bermain mendayung getek bersamanya untuk menyebrang sungai agar dapat sama-sama sampai ke sekolah. Dan Indra sendiri adalah anak dari pasangan Ata dan Salma.

Ketika makanan yang awalnya ada pada rantang itu terlahap habis, kedua penyadap karet itu tak lekas pergi untuk pulang. Mereka duduk-duduk sebentar menikmati semilir angin, memberikan kesempatan pada perutnya untuk mencerna makanan yang telah mereka habiskan. Sambil menyalakan rokok kretek, mereka pun memulai pembicaraan..

"Hari demi hari harga di pasar makin naik, tapi upah hasil menyadap karet tidak kunjung baik. Ditambah upah jadi kuli panggul juga belum cukup. Sulit ya, Ta?"

"Yah begitulah.. Sabar sajalah Yus, pasti ada jalan."

"Cih, ceramahi saja terus aku tentang sabar. Sudah bosan aku mendengarnya. Lagian, kau itu kan bisa baca tulis, dan kemarin dapat bantu-bantu di kantor desa waktu pemilu. Pastilah dapat uang lumayan kau."

"Alhamdulillah, masih tersisa Yus buat simpanan. Kau sendiri cobalah carilah tambahan lain."

"Heh, kau kira mudah untuk orang sepertiku dapat kerja? Gampang sekali kau berbicara seperti itu."

Mendengar omongan kawannya itu, Ata hanya menyunggingkan senyumnya saja, tanpa berbicara.

"Ta, asal kau tahu saja, istriku si minah sudah berhari-hari meminta uang untuk seragam dan sepatu si Haen yang rusak dan perlu beli yang baru. Untuk seragam sudah bisa aku berikan, tapi untuk sepatu itu sayangnya belum. Dan istriku itu makin harinya makin bawel saja."

"Oh, jadi kau benar benar butuh uang Yus?"

"Ya"

"Begini" kata Ata melanjutkan "Tiga hari lagi, ada pertarungan sabung ayam di pelataran Gan Jaya. Ayamnya, Si Wokwok, akan ditarungkan dengan ayamnya Gan Tisno, Si Kokok. Kau bisa taruhkan uang yang kau punya disana, dan kalau kau menang mungkin kau bisa belikan itu sepatu buat si Haen. Sekurang-kurangnya kalau kau menang, setengahnya kau dapat."

Yus pun mengerutkan dahinya. Ia sadar bahwa ia akan berjudi dan mempertaruhkan uang yang ia punya. Salah-salah bisa hilang semua uangnya.

"Kira-kira, siapa yang akan menang menurutmu Ta?"

"Entahlah, Si Kokok adalah jagoan se-Joyokerto, sedangkan Si Wokwok pernah juga mengalahkan Si Japra, juara sabung kampung sebelah. Sulit juga untuk menentukan yang mana yang akan menang. Tapi, kalau aku harus memilh, aku memilih si Wokwok."

"Loh, kenapa?"

"Tak tahu."

"Ah, kalau begitu aku pilih si Kokok saja!"

"Kenapa begitu Yus?"

"Karena Si Wokwok kau pilih tanpa alasan yang masuk akal."

"Haha, jangan meremehkan. Kalau begitu aku juga akan bertaruh, buat Si Wokwok."

"Ho, boleh juga kau."

"Jadi, tiga hari lagi kita akan sama sama ke rumah Gan Jaya. Jadi Yus?"

"Jadi!"

Lalu setelah perjanjian itu dibuat, mereka pun pulang ke rumah mereka masing-masing. Berjalan telanjang kaki di jalanan tanah berbatu Desa Joyokerto.

***

Akhirnya sampailah waktu itu ke hari yang dinanti oleh Yus dan Ata. Malam hari itu mereka berjalan bersama ke pelataran rumah Gan Jaya yang memang sudah penuh sesak oleh para penjudi ataupun mereka yang sekedar datang untuk menonton. Tukang kacang rebus pun tak ingin ketinggalan, nyala kuning dari lampu petromaknya menambah hingar bingar pada pelataran rumah Gan Jaya yang cukup luas itu. Sesampainya disana, Yus dan Ata langsung berhadapan dengan sang bandar, masing-masing dari mereka mengeluarkan selembaran uang seratus ribuan merah dari sakunya untuk dipertaruhkan.

Tak mudah untuk Yus mendapatkan uang seratus ribu itu, ia harus adu mulut dulu dengan Minah untuk membawanya keluar rumah sebagai barang taruhan. Ia hanya bilang ke Minah kalau ia ada urusan, dan ia memerlukan uang itu. Ia berjanji untuk membawa kembali uang yang lebih dari yang ia bawa, yang ia janjikan untuk membeli sepatu baru bagi si Haen. Mendengar janji Yus akan sepatu Haen, minah pun mempersilahkan Yus pergi membawa seratus ribu itu, walaupun dengan nada yang ketus.

Dari Bandar Judi, Yus dan Ata langsung masuk ke kerumunan yang berkumpul di sekitar arena pertarungan. Di dua sisi yang berlawanan pada arena tersebut, sudah berdiri Si Kokok dan Si Wokwok. Namun keduanya masih terkurung di dalam kurungan bulat yang terbuat dari anyaman bambu. Dengan cermat, Yus memperhatikan profil kedua ayam yang sebentar lagi akan beradu itu.

Dari penglihatannya, Si Kokok ayam jagoannya itu punya fisik yang lebih berisi dan tegak, tindak tanduknya lebih aktif dan terlihat siap menggasak lawan tandingnya. Sementara Si Wokwok, figur tubuhnya memang kekar dan tegap, tapi ia lebih kecil daripada Si Kokok. Gerak-geriknya pun terlihat kalem-kalem saja, seperti ayam-ayam di Joyokerto yang biasa dibiarkan liar mematuk tanah di pekarangan. Dengan modal pengamatan kecilnya itu, kepercayaan diri Yus mulai tumbuh. Ditambah lagi beberapa saat kemudian, sang bandar mengumumkan bahwa besar taruhan adalah tiga berbanding satu dengan Kokok sebagai ayam yang paling banyak ditaruhkan. Mendengar kabar itu Yus melempar senyum menyeringainya pada Ata, yang hanya berbalas senyum tipis.

Tak lama kemudian, para pawang dan empunya ayam tersebut masuk ke arena pertandingan. Tudung pengurung bambu itu diangkat, dan ayam-ayam tersebut digendong sejenak oleh para pawangnya. Mereka di elus, sambil dibisiki kata-kata sunyi yang berkomat-kamit dari mulut para pawang. Lalu, mereka diberdirikan berhadap-hadapan. Si Kokok yang agresif langsung mencondongkan kepalanya ke depan, sementara lawannya masih tetap tenang, namun matanya cukup tajam memandang dalam-dalam pada mata Si Kokok. Tak lama kemudian, aba-aba pertarungan diteriakkan, ayam-ayam itu dilepas dan pertarungan dimulai.

Ayam-ayam itu berjalan mengitari arena yang bentuknya bulat, saling memandang satu sama lain dengan waspada. Sorak-sorai dari pinggir arena bersahutan mendorong ayam-ayam itu agar segera melancarkan serangan. Di pinggir arena itu juga Yus dan Ata berdiri, masing-masing menitipkan seratusribunya pada kedua ayam itu, terlebih untuk Yus yang harap-harap cemas kalau-kalau tak bisa mengganti uang yang ia ambil dari uang belanja istrinya itu. Serangan pertama dilancarkan oleh Si Kokok, ia melompat, mengepakkan sayapnya dan berusaha mencakar Si Wokwok yang berusaha menghindar. Adu cakar, mematuk, terus terjadi sepanjang pertandingan sabung ayam itu. Dengan Si Kokok sebagai penyerang yang dominan. Kedua bulu di leher ayam itu pun terlihat berdiri mengembang, seperti rambut singa, tanda bahwa pertandingan kian panas diantara mereka. Si Kokok kembali menyerang, sampai membuat lawannya terguling di tanah kering berpasir itu. Yus terlihat girang, mendapat harapan yang besar uang seratusribunya akan berlipat malam itu. Tapi siapa sangka, ketika Si Kokok akan memberikan serangan terakhirnya, Si Wokwok berbalik berdiri lalu dengan keras mematuk Si Kokok tepat pada lehernya, yang membuat ayam malang itu terjatuh meronta-ronta seperti orang kedapatan ayan, sambil mengeluarkan suara aneh yang memekik, seperti suara orang yang lehernya tercekik dengan keras.

Dan Si Kokok pun dinyatakan kalah dalam pertandingan itu. Harapan Yus pada ayam jagoannya itu luluh lantah, kekesalan mulai terasa sesak di dadanya..

***

"Hah, lihat jagoanmu itu. Aku sudah mengira dia tak akan kuat menghadapi pertarungan besar seperti ini. Bentar lagi juga dia akan meninggal dunia kena patukan seperti itu!" Seru Ata dengan nada merendahkan bahan taruhan yang diambil oleh Yus. Jelas saja, perkataan kawannya itu membuat Yus kesal. Bukan hanya martabatnya yang direndahkan yang jadi penyebab kekesalan itu, ia juga mesti memikirkan harus bilang apa kepada istrinya tentang seratus ribu yang ia sia-siakan malam ini dan membayangkan teriakan melengking istrinya yang marah karena besok sampai waktu yang tak menentu dapurnya tak akan mengepul. Semuanya terbuang sia-sia dalam sabung ayam malam itu.

"Kau tunggu di sini, aku ambil uang hadiahku dulu sebentar." kata Ata sambil melangkah pergi menjauhi Yus yang masih berdiri di pinggir arena sabung ayam yang telah kosong. Yus kembali teringat kepada sepatu anaknya yang belum terbeli itu. Ia kembali terbayang Minah, dan Haen; apa yang harus kubilang? tanyanya dalam hatinya. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, dapur terancam tak mengepul.. sepatu untuk anaknya pun tak terbeli. Kesialan yang menimpa dirinya malam itu semakin membuat kesal.

"Ayo Yus, kita pulang. Uangku jadi tiga kali lipat. Salma dan Indra pasti senang ketika aku pulang, haha."

Yus menoleh pada Ata, dengan pandangan yang tajam. Ia diam sejenak memandangi kawannya itu tanpa bersuara.

"Yus, ayo lah, sudah malam.. jangan kau terlarut ini cuma permainan bukan. Besok kita harus menyadap karet lagi." ucap Ata dengan nada yang merendah.

"Ya, ayo kita pulang. Tapi kita singgah dulu di gubuk, aku mau ambil peralatan dulu disana"

"Untuk apa Yus? toh besok pagi kita sudah ke gubuk lagi bukan?"

"Golok di rumahku rusak, sementara istriku membutuhkannya untuk membuat santan. Mungkin parang di gubuk bisa berguna."

"Oh.. baiklah.. tapi lekaslah Yus, sudah malam, kasihan anak istri kita."

Akhirnya mereka pun melangkah pergi dari pelataran rumah Gan Jaya, berjalan kearah gubuk yang biasa mereka gunakan untuk beristirahat dan menyimpan peralatan untuk menyadap karet di perkebunan. Bulan hanya terlihat sebagian, dan hutan terlihat gelap diriungi bayangan pohon yang jarang-jarang. Kedua lelaki itu berjalan selangkah demi selangkah pada jalan setapak gelap yang pada siang hari dapat terlihat jelas lika-likunya. Hingga pada akhirnya sampailah mereka pada gubuk di perkebunan karet itu.

"Kau tunggu diluar." kata Yus yang masuk kedalam gubuk dan mencari-cari parang ditengah kegelapan.

Ata menunggu sendirian di luar, mencoba meresapi suara alam dari derikan jangkrik dan dinginnya udara malam. Ia keluarkan uang tiga ratus ribunya dari kantung celananya. Ia tersenyum, setelah kemarin mendapat komisi waktu membantu pembangunan dan menjadi resepsionis di TPS, kini uangnya kembali bertambah. Sekilas ia teringat nasib kawannya itu yang membutuhkan uang untuk membeli sepatu anaknya, ia berpikir mungkin sebagiannya bisa ia pinjamkan, bulan depan pun pasti akan lunas terbayar. Dari gubuk terdengar suara perabotan yang diotak-atik oleh Yus, lalu tak lama kembali sunyi, mungkin Yus sudah menemukan parang yang dibutuhkannya. Dan benar saja, dari belakang terdengar suara Yus memanggil..

"Hei, Ata.."

Ata pun menoleh ke belakang.. dan "throokk!!" parang yang dipegang oleh Yus seketika tertancap pada bagian leher bawah seorang Ata. Seperti Si Kokok yang dipatuk oleh Si Wokwok jagoan Ata, suara aneh itu pun terdengar lagi dari mulut Ata yang mencoba meronta. Darah mengalir dan berjatuhan pada kaus kumal yang dipakai Ata, dan beberapa tetes terciprat pada baju yang dikenakan Yus. Ata pun rubuh, suara aneh itu tak lagi terdengar, lalu Yus pergi meninggalkan Ata yang bersimbah darah. Tak lupa membawa uang tiga ratus ribu yang ada dalam genggaman kawannya..

*** 

Yus pun berjalan pulang ke rumahnya, ditengah jalan ia tanggalkan bajunya yang terkena bercak darah itu dan ia sembunyikan bersama parangnya dalam lubang yang ia gali dibawah sebuah pohon karet. Tiga ratus ribu itu ia simpan dalam sakunya, berharap dengan uang itu tidak akan ada lagi istrinya yang bawel tentang uang, dapur, atau sepatu untuk anaknya. Malam ini ia berpikir tidurnya akan sedikit lebih tenang.

Sesampainya di rumah ia mengetuk pintu, dan istrinya Minah membukakan pintunya sambil terheran-heran.

"Mana bajumu mas?"

"Ku buang, tadi tersangkut dahan sampai lengannya robek. Tak layak lagi untuk dipakai"

"Aduh mas, kujahitkan kembali seharusnya bisa kan?"

"Sudahlah, diam kamu. Ini, uang seratusribu yang tadi aku pinjam. Dan ini, tambahannya untuk dapur dan sepatu buat Si Haen."

Yus pun menyodorkan uang tiga ratus ribu yang ia dapat dari Ata. Namun Minah tak mau menerima seluruhnya. Hanya seratus ribu yang tadi dipinjam saja yang ia ambil kembali.

"Kenapa? Ambil semuanya, kau sudah bawel kan dari kemarin minta belikan  sepatu untuk anak kita?"

"Oh, untuk itu sudah tak perlu mas.."

"Loh, dia sudah dapat sepatu baru? kau dapat uang darimana? Bilang!"

"Sabar mas, aku dapat sepatu ini cuma-cuma" Minah berjalan lalu berjongkok mengambil sepatu warrior hitam yang terletak di kolong kursi "Memang tak baru, tapi toh ini masih cukup bagus untuk dipakai."

"Baiklah, tapi kau dapat dari siapa sepatu itu?"

"Dari Salma mas, ini sepatu bekas Indra. Katanya kemarin Indra dibelikan sepatu baru oleh ayahnya. Namun, karena yang lama ini masih bagus, sayang kalau tidak dipakai atau dibuang. Jadi, Salma berikan saja sepatunya pada Haen."

"Salma.. Indra.. istri si Ata itu??"

"Iya mas, mereka memang keluarga yang baik. Hutang budi lah kita dengan mereka. Harus dibalas suatu hari nanti.."

Mendengar perkataan istrinya itu, Yus hanya bisa terpaku diam. Ia dudukkan dirinya di kursi itu, lalu kembali terpaku dengan pandangan yang kosong ke tanah alas rumah mereka berdiri. Ia terbayang kembali pada mayat Ata yang tergolek dan ia tinggalkan dengan dingin. Terbayang pada Indra yang sekolah menggunakan sepatu baru, tapi kehilangan ayahnya. Terbayang pada Haen, memakai sepatu pemberian keluarga yang seorang ayahnya ia buat meninggal dunia. Dan terbayang kembali pada kekesalan kekesalannya yang memuncak karena kalah dalam perjudian, yang akhirnya ia lampiaskan pada seorang kawannya;

Tepat sehabis permainan sabung ayam..

***

Terinspirasi dari: KOMPAS.COM

Minggu, 01 Juni 2014

Selamat Datang, Juni

Hujan Bulan Juni

Oleh: Sapardi Djoko Damono

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni,
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Apa kabar? Sudah bulan Juni.
Sebentar lagi liburan. Semoga senang-senang, disana.