Nduk,
Rabu, 10 Juni 2015
Kabar Buat Si Nduk : Dari Bawah Pohon
Nduk,
Senin, 26 Mei 2014
Di Kantin
Di tangannya ia genggam beberapa pack tisu, yang tidak digunakannya untuk mengelap ingus. Ia lebih memilih kerah bajunya saja yang jadi lap untuk membersihkan lelehan ingus. Karena baginya tisu-tisu tersebut bukanlah untuk membersihkan hidungnya, bibirnya, atau wajahnya, tetapi baginya tisu-tisu itu adalah kesempatannya untuk menyambung hidup.
Pada tiap pack tisu tersebut ia titipkan harapan, tiga ribu rupiah, yang ia jajakan pada tempat-tempat ramai lalu-lalang banyak orang.. Dan pada jam-jam tertentu ketika kantin-kantin ramai, ia jajakan juga disana. Berharap kepada kemungkinan ada saja orang yang butuh untuk mengelap bagian bibirnya sehabis makan, untuk membersihkan bagian-bagian pakaian yang tak sengaja basah oleh minuman, atau untuk sekedar mengelap keringat pada pelipis-pelipis wajah. Bahkan, ia berharap agar ada saja yang membeli tisunya hanya karena kasihan.
Dan di siang hari itu, kantin memang sedang ramai. Bocah itu pun siap melancarkan operasinya untuk menjual tiap pack tisu yang ia bawa. Setiap sudut kantin ia jelajahi, mencoba mencari orang yang dapat mewujudkan harapan yang ia titipkan pada tisu-tisu tersebut. Menawarkan, merayu, dan memelas, agar orang-orang di kantin itu membeli barang jualannya. Tapi sepertinya hari iru memang bukan hari miliknya, belum ada tisunya yang laku terjual. Tinggal satu meja yang belum ia datangi, meja yang diduduki oleh beberapa orang pemuda yang sedang asyik mengobrol. Daripada tidak mencoba, bocah itu pun menghampiri meja tersebut.
***
"Kak, beli lah tisunya.."
Mendengar suara si bocah, salahsatu pemuda yang duduk di bangku meja itu menoleh, lalu tersenyum dan berkata basa-basi pada si bocah: "Tawarin aja sana ke cewek-cewek, cowo mah gak pake tisu!" sebuah kalimat yang memang biasa digunakan para pemuda untuk menolak barang jualan si bocah. Dan si bocah sudah tahu betul arti kata-kata itu, bahwa para pemuda itu tidak akan ada yang menaksir tisu-tisu yang ia jual. Ia kecewa, namun, ia tidak lantas pergi, ia duduk di dekat bangku-bangku yang diisi para pemuda itu, memperhatikan obrolan mereka sambil sejenak beristirahat, memberikan kesempatan pada kaki-kakinya yang mulai pegal karena berjalan.
"Aku yakinlah, kalau capres jagoanku itu menang, kita bisa usir itu kapitalis-kapitalis asing yang menyedot kekayaan alam milik kita" kata seorang pemuda. "Alah kau, jagoanmu itu tegas sih tegas, tapi salah-salah omong kita bisa kena culik!" timpal pemuda yang lain "Kita butuh pemimpin yang bisa membawa kebaruan, yang tidak hadir dari generasi yang hidup dibawah pemimpinan rezim terdahulu, yang mau bekerja untuk mensejahterakan rakyat, yang datang membawa mimpi rakyat kecil!"
Bocah itu mencoba mencerna obrolan para pemuda tersebut, ia cukup bisa menangkap, sedikit, mereka mengobrolkan tentang presiden.
"Maksudmu yang satu itu? masih belum jelas visi misi yang dia punya.." pemuda lainnya bereaksi pada perkataan temannya itu, yang lekas-lekas dijawab kembali oleh temannya itu "Apalagi yang belum jelas? dia akan mulai pembangunan negeri ini melalui sebuah revolusi mental, ia membangun sumberdaya manusianya dulu, lewat suatu pendidikan yang dirancang dengan baik. Lihat bocah yang jualan tisu itu, aku yakin jika calonku yang terpilih, ia bisa sulap bocah itu jadi insinyur."
Mendengar namanya dibawa-bawa bocah itu pun merasa perlu untuk memotong pembicaraan: "Apanya yang jadi insinyur? gimana caranya kak?" dan salahsatu pemuda itu menjawab: "Ya kau, jadi insinyur, kau disekolahkan yang tinggi, jadi orang besar."
Bocah itu mengerutkan dahi, diam sejenak, lalu kembali berbicara: "ah, sekolah? seperti kakak-kakak ini sekolah tinggi sampai bisa banyak omong yang tak bisa aku mengerti?" Pemuda itu menyeringai: "Haha, iya dik, kalau kau sudah sekolah setinggi kami, nanti juga kau mengerti apa yang kami bicarakan."
Bocah itu berdiri dari duduknya, lalu berkata: "Aku tak mau seperti itu kak."
"Loh, kenapa?" Pemuda itu heran.
"Buat apa bisa mengerti omongan tinggi" kata bocah itu, "kalau mengerti susahnya jualan tisu ini saja sulit!"
Dan bocah itu pun melangkah keluar kantin..
Jumat, 23 Mei 2014
Saya Kehilangan Selera
Sore tadi saya baru ngobrol dengan sahabat saya di SMA, Alvin Noviansyah, lewat media layanan chat online tertunya karena kini kami tinggal di kota yang berbeda. Terlepas dari pembahasan sentimentil tentang wanita dan cinta, Alvin menunjukkan sebuah foto pada saya, foto dekoran. Dekoran monumental berbentuk kristal dengan cahaya biru yang terpendar, dekorasi itu dibuat dalam rangka menghias malam keakraban bagi mahasiswa SAPPK ITB 2013. Sangat baik untuk ukuran dekorasi skala acara internal, belum lagi hanya Alvin sendirian yang berpengalaman dan punya skill khusus untuk membuatnya dalam tim dekor. Jujur, saya merasa iri kepada sahabat saya tersebut, ia masih bisa membuat karya sebaik itu. Sementara saya disini merasa kering dan merasa kehabisan selera dalam berkarya. Walaupun pada pembicaraan itu Alvin pun bilang, bahwa ia pun merasakan suatu keterbatasan dalam berkarya kini.
![]() |
| Dekoran Alvin |
Saya bilang pada Alvin bahwa masalahnya adalah minim pikiran kreatif, sehingga setiap karya dari suatu kegiatan berorganisasi seolah itu-itu saja dan membosankan. Tapi dia memberikan pandangan lain, katanya, masalah ada pada orientasi individu-individu dalam berorganisasi, yang ia bilang sebagai "Orientasi Kehidupan Modern", dimana berorganisasi adalah untuk sekedar mencari pengalaman dan mengisi baris-baris kosong pada curriculum vitae (CV) bukan untuk berorganisasi itu sendiri; menghimpun individu kedalam suatu tujuan yang akhirnya menghasilkan suatu karya atau dampak-dampak dari tujuan tersebut. Sehingga mutu dari karya suatu kegiatan organisasi tidak terlalu penting bagi individu, yang lebih penting adalah individu mendapatkan nilai pengalaman dan nilai praktis berupa isian CV yang sah. Yang dibuat adalah bukan karya, melainkan sebuah rencana-rencana semata atau yang saya tafsirkan tentang rencana maksudnya adalah step by step proyeksi program kerja, tanpa ada nyawa berupa hasrat berkarya pada program kerja tersebut. Saya setuju, tapi menanggapi kembali bahwa yang dibuat oleh kegiatan organisasi dalam orientasi tersebut juga tidak dapat selalu dipandang sebagai pembuatan rencana, karena biasanya rencana sudah tersedia sebagai prosedur turun-temurun, namun yang membedakan adalah cara pembungkusan rencana tersebut. Dan saya juga memandang, pergeseran orientasi berorganisasi ini memberikan dampak kepada pemahaman individu terhadap sistem kerja suatu organisasi, misalnya seperti penggunaan AD/ART dalam menentukan kebijakan, penggunaan struktur dalam sistem komando dan koordinasi, juga Hak, Wewenang, dan Kewajiban yang tidak menentu ketetapannya sehingga perilaku anggota organisasi seolah kurang teratur.
Saya kini memang tidak terikat pada organisasi manapun, tapi saya pernah mengalami suatu kegiatan berorganisasi disini atau mendengar pengalaman kawan-kawan saya yang ikut dalam suatu organisasi, dan saya menemukan kasus-kasus yang akar masalahya kembali pada yang dikatakan Alvin: Orientasi. Malah mungkin, kegiatan itu tanpa Orientasi sama sekali
Yang pasti, saya memang merasa kehilangan selera sekarang, dengan tidak menemukan ketertarikan dalam mengikuti kegiatan apa pun yang berbasis kerjasama. Dengan alasan, ketika melihat penyusunan acara dan organisasi tersebut, yang saya lihat hanya nilai-nilai kosong tanpa hasrat mencapai nilai-nilai tersebut.
Suatu karya yang baik, datang dari kerja yang baik, kerja yang baik datang dari pengorganisasian yang baik, pengorganisasian yang baik datang dari perancangan rencana dan dasar-dasar filosofis yang baik.
Apa itu baik? Mampu memberikan jawaban lurus dalam setiap pertanggungjawaban atas karya tersebut.
Kamis, 03 April 2014
Socrates #1
Sekarang minggu UTS, dan masih ada seminggu lagi. Hal yang menyebalkan dari UTS adalah sempitnya waktu buat cari pengetahuan diluar bahan UTS. Kaya si Arish sama Bayu, yang kesulitan buat nyelesain Dunia Sophie sama Sherlock Holmes karena ada take home MMI sama sit-in MPKT B di hari Jum'at. Waktu sekian banyak itu bakal kemakan sama bahan-bahan dari Pak Koen, Amartya Sen, dan LSPB-LSPB dari Scele sehingga minim kesempatan untuk lari ke bacaan yang lain, yang lebih menyenangkan mungkin. Tapi kesempatan ga cuma datang karena kebetulan atau pemberian deng, bisa juga dibuat. Lagian saya kan alumni belitung timur, yang punya filosofi akademik kalau UTS adalah Ujian Teu Serius (teu=tidak), jadi rilek ajalah dulu kita cari-cari info tentang Socrates yang tadi sempat diomongin di depan fotokopian penjara.
Siapa Socrates? Seumur hidup saya, saya tau dua orang yang punya nama Socrates. Yang satu dari Yunani, dan satu lagi dari negeri tuan rumah Piala Dunia 2014: Brazil. Socrates yang dari Yunani itu kerjaannya nggembel di jalanan Kota Athena berfilsafat sama orang-orang yang dia temuin, sementara yang dari Brazil itu kapten tim nasional sepakbola Brazil di World Cup 1982, sebuah tim yang dipecaya sebagai salah satu tim terbaik yang pernah terbentuk di muka bumi. Jadi kedua orang yang bernama Socrates ini memang jelas beda, tapi duaduanya punya kesamaan: sama-sama keren. Dan pada kesempatan ini saya mau ngomongin Socrates yang dari Yunani dulu setelah tadi entah kenapa di depan fotokopian penjara banyak ngobrol tentang filsafat sama Bayu dan Arish.
Wikipedia bilang :
"Socrates (Yunani: Σωκράτης, Sǒcratēs) (469 SM - 399 SM) adalah filsuf dari Athena, lahir di Athena, dan merupakan generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani, yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles. Semasa hidupnya, Socrates tidak pernah meninggalkan karya tulisan apapun sehingga sumber utama mengenai pemikiran Socrates berasal dari tulisan muridnya, Plato."Salah satu dari tulisan Plato tentang Socrates adalah The Apology, yang katanya juga ditulis oleh Xenophon. Tulisan ini berisi tentang dialog Socrates sewaktu dia digugat oleh sekelompok orang dan dihakimi di Athena, yang pada akhirnya berujung dengan hukuman mati buat Socrates dengan cara meminum racun hemlock. Di pengadilan ini, Socrates dituduh sebagai orang yang "pembuka pintu menuju kejahatan, meracuni kaum muda, dan tidak percaya kepada dewa-dewa.", diantaranya orang-orang yang menuduh Socrates adalah Meletus, Anytus dan Lycon.
Sebenarnya tuduhan itu datang dari kebiasaan Socrates yang mungkin bisa dibilang unik buat waktu itu, mungkin juga buat sekarang. Kalau mengutip ke buku lucunya Osborne, Socrates itu suka berpakaian lusuh, kaki telanjang, dan senang menghabiskan dirinya berdebat di pasar. Ia sangat menaruh perhatian terhadap moralitas, terhadap upaya menemukan yang adil, benar, dan baik. Bisa dibilang, dia salah satu filsuf pertama yang bicara tentang etika. Dan upaya untuk menemukan yang adil, benar, dan baik itu dia lakukan dengan metode dialektik, yang sering juga disebut metode bidan kebenaran, sebuah metode tanya-jawab dalam pembicaraan untuk menemukan jawaban yang paling benar atau mendasar. Jadi Socrates yang satu ini masuk dalam kategori manusia kepo, senangnya ngobrol dan nanya-nanya, bahkan menganggap dirinya sebagai "lalat pengganggu" bagi manusia-manusia yang malas.
Kegiatan kepo ini sebenarnya ada sebab-musababnya. Kita kayanya udah ga jarang denger ungkapan Socrates kalau yang dirinya tahu adalah bahwa dirinya tidak tahu apapun, dan itulah bentuk dari kebijaksanaan. Socrates memiliki sebuah pandangan kalau kebijaksanaan adalah sikap rendah hati yang selalu berproses untuk terus mencari suatu yang baik dan benar. Pandangan ini gak begitu aja dateng ke Socrates, ada ceritanya.
Jadi ceritanya Socrates punya teman, namanya Chaerephon, yang pergi bertanya ke Oracle Delphi:
"...You must have known Chaerephon; he was early a friend of mine, and also a friend of yours...Well, Chaerephon, as you know, was very impetuous in all his doings, and he went to Delphi and boldly asked the oracle to tell him whether he asked the oracle to tell him whether there was anyone wiser than I was, and the Pythian prophetess answered that there was no man wiser..." ―Socrates, dalam Plato, The Apology.Jadi Socrates mendengar kalau dialah manusia yang paling bijak, dia juga sebenarnya bingung denger berita dari Delphi tersebut:
Nah, dari kebingungannya itu dia jadi kepo, dia datangi orang-orang yang dia anggap lebih bijaksana dari dirinya dan menggunakan metode pembidanan tadi untuk mengetahui apakah sebenarnya yang diketahui dari orang-orang yang terlihat bijaksana tersebut. Hasilnya adalah, dia hanya menemukan kalau orang-orang tersebut hanya sok bijak dan sok tahu, karena ketika Socrates memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menguji pengetahuan orang-orang bijak tersebut, mereka tidak bisa menjawabnya. Dan akhirnya kegiatan Socrates tersebut jadi buah simalakama tersendiri, orang-orang yang menganggap dirinya bijak itu sakit hati dan membenci Socrates."I know that I have no wisdom, small or great. What can he mean when he says that I am the wisest of men?"―ibid.
"When I began to talk with him, I could not help thinking that he was not really wise, although he was thought wise by many, and wiser still by himself; and I went and tried to explain to him that he thought himself wise, but was not really wise; and the consequence was that he hated me...So I left him, saying to myself, as I went away: Well, although I do not suppose that either of us knows anything really beautiful and good, I am better off than he is - for he knows nothing, and thinks that he knows. I neither know nor think that I know."―ibid.Begitulah Socrates menyimpulkan kebijaksanaannya yang berarti merendah hati kalau ia tidak mengetahui apapun, dan tidak sok tahu tentang suatu pun. Sehingga muncul keinginan untuk selalu mencari pengetahuan lewat dialog-dialog bersama orang-orang yang ditemui. Ia berusaha mencari jawaban terbaik dari dialog-dialog dengan cara menanggapi suatu pernyataan dengan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap pernyataan tersebut. Yang akhirnya jawaban terbaik itu dapat ditarik secara logis.
Dari dialog-dialog yang dilakukan Socrates muncul pengetahuan-pengetahuan baru di masyarakat Athena, yang tak jarang bertentangan dengan nilai-nilai yang sudah lama ada di Kota tersebut. Selain itu sikap kritis Socrates seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya banyak menimbulkan rasa sakit hati terhadap orang-orang yang awalnya dipandang bijak namun dijungkirbalikkan oleh sikap Socrates. Karena itulah pada suatu hari gugatan dilayangkan kepada Socrates, dan Socrates pun di hakimi di pengadilan Athena.
Di pengadilan itu Socrates tidak merasa ada kesalahan akan apa yang ia laluinya. Ia bilang, ia hanya melakukan tugas yang diberikan oleh para Dewa, lewat pesan yang ia terima dari Oracle Delphi, bahwa ia adalah manusia yang paling bijaksana dan berusaha membawa warga Athena kepada kebijaksanaan tersebut lewat metode pembidanannya. Dimana lawan dialog mendapatkan kebenaran dari jawaban yang diformulasikannya sendiri dari pertanyaan Socrates, bukan lewat pengajaran dalam artian pengetahuan itu diberikan secara langsung dari Socrates. Dan sebenarnya warga Athena pun toh senang terhadap dialog-dialog yang dilakukan Socrates, dan ada juga orang-orang yang pernah berdialog dengannya tapi tidak merasa dirugikan karena dialog tersebut, ya si Plato contohnya.
"But I shall be asked, "Why do people delight in continually conversing with you?" I have told you already, Athenians, the whole truth about this: they like to hear the cross-examination of the pretenders to wisdom; there is amusement in this. And this is a duty which the God has imposed upon me, as I am assured by oracles, visions, and in every sort of way in which the will of divine power was ever signified to anyone."―ibid.Namun, akhirnya Socrates tetap dinyatakan bersalah lewat voting yang diadakan dalam pengadilan tersebut. Tidak jelas berapa lawan berapa, namun dicatat dalam The Apology kalau Socrates kalah 30 suara, yang bisa dihitung kalah sedikit dari pemenang voting. Dan muncullah usulan kalau Socrates harus dihukum mati,
Socrates merasa bahwa dia bisa saja meyakinkan kembali para juri disana, tapi waktu yang tak tersedia tidak cukup untuk menghilangkan fitnah besar terhadap dirinya. Tapi ia masih tetap pada pendiriannya kalau dirinya tak bersalah, maka ia tidak mau mengajukan usulan banding terhadap hukuman matinya tersebut. Memang dia membicarakan juga tentang hukuman seperti penjara plus dendanya, atau hukuman pengasingan. Tapi ia berpendapat bahwa dipenjara sama saja menjadi budak hakim, dan jika ia diasingkan tetap saja ia akan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan di Athena ketika ia sampai di tempat pengasingannya. Seain itu ia juga berpendapat bahwa mengajukan banding sama saja dengan mengakui bahwa dirinya bersalah dan ia lebih takut terhadap kematian daripada berpaling dari kebenaran. Sehingga dengan tegas ia menerima hukuman mati.."And so he proposes death as the penalty. And what shall I propose on my part, O men of Athens?...I believe that I should have convinced you; but now the time is too short. I cannot in a moment refute great slanders; and, as I am convinced that I never wronged another, I will assuredly not wrong myself. I will not say of myself that I deserve any evil, or propose any penalty."―ibid.
Dan palu pun diketuk, Socrates dihukum mati dengan meminum racun hemlock. Menurut Wikipedia, Kematian Socrates dalam ketidakadilan peradilan menjadi salah satu peristiwa peradilan paling bersejarah dalam masyarakat Barat di samping peradilan Yesus Kristus. Kematian Socrates memang dramatis, mati demi sesuatu yang ia yakini benar, seolah kebenaran lebih berharga daripada hidup sendiri. Selain itu, saya juga bisa melihat kalau kematian Socrates pun menjadi tamparan tersendiri dalam sistem voting pada peradilan Athena yang menganut demokrasi tersebut. Seolah tidak ada kebijaksanaan disana, dan Socrates memilih untuk mati demi menunjukkan adanya ketidakbijaksanaan tersebut. Mungkin ia memang sengaja bertindak sebagai martir untuk memancing kita untuk lebih dalam bertanya.. Seberapa besar nilai suatu kebenaran?"The difficulty, my friends, is not in avoiding death, but in avoiding unrighteousness.."―ibid.
Jumat, 21 Februari 2014
Wots... Uh The Deal
Ini post sambil lagu-laguan, kalo mau denger lagunya, Pink Floyd - Wot's... Uh The Deal, bisa kesini atau download sendiri.
--------------------------------------------
*Intro Guitar
Masa SMA memang masa yang paling indah. Apalagi buat saya, yang jarang belajar di kelas selepas dari kelas X. Bagi saya yang benar-benar mendidik saya sama sekali bukan sekolah, tapi perpustakaan. Ruang kelas itu penjara dan guru itu sipirnya, kalo kata John Nash di film "A Beautiful Mind" sih, kelas menghambat kreatifitas, dan ini benar- benar terasa buat saya, apalagi waktu kelas XI.
Saya memang ga cocok di kelas. Di kelas saya bertemu guru matematika, fisika, kimia, bahasa dll. yang ngatur ba-bi-bu dan juga ngasih tugas-tugas. Yah, saya tau itu menurut pada silabus yang dirancang buat membentuk siswa. Tapi saya lebih setuju sama gagasannya Roger Waters : "We don't need no thoughts control." tapi bukan berarti kita biarkan diri kita kosong dari pemikiran apa pun, kita punya kebebasan untuk memilih apa yang ingin kita pelajari. Dan kebebasan itu saya temukan di perpustakaan. Disana ilmu tidak menuntut, tapi mengajak kita untuk senantiasa berpikir. Saya kira malah itulah arti penting pembelajaran; sebuah ajakan tulus ke pintu-pintu yang memang kita belum pernah masuki dalam relung pengetahuan.
"Heaven sent the promised land
Looks alright from where I stand
'Cause I'm the man on the outside looking in"
Saya paling sering ke perpustakaan pagi-pagi, karena.saya sering terlambat, dan yang terlambat disuruh diam di perpustakaan. Ya alhamdulillah, saya malah jadi nyaman buat terlambat kalo aturannya seperti itu. Dari perpustakaan dan minat membaca tumbuh banyak guru-guru baru yang saya temui, seperti Niccolo Machiavelli, Umar Kayam, Mochtar Lubis, Pramoedya Ananta Toer, dan banyak lagi. Diantara mereka-mereka, yang paling berpengaruh buat saya di masa SMA ada dua, yang pertama Pram, dan yang kedua adalah Soe Hok Gie.
Seberapa pengaruh? besar. Mereka memberikan pandangan bahwa kebenaran, ilmu, dan pengetahuan adalah hal-hal yang indah. Perjuangan Minke di Tetralogi Buru dan Catatan harian Gie sebagai mahasiswa memberi pengaruh yang besar bagi saya. Bisa dibilang, saya mencoba mengikuti jejak langkah mereka. Ada memang yang terkorbankan dalam hal ini, mimpi saya untuk menjadi seniman terasa hambar. Saya lebih tertarik untuk memandang kedua orang itu, Minke dan Gie, dua duanya penulis. Minke adalah alter ego dari Tirto Adhisoerjo, pahlawan nasional di bidang pers. Gie, tulisannya yang tajam banyak dimuat di koran nasional masa itu. Dari mereka tumbuh mimpi baru, menjadi seorang Jurnalis. Tapi di mana? Minke pernah belajar di STOVIA sebentar, Gie di Universitas Indonesia. STOVIA dalam sejarahnya berubah jadi FKUI. Ya, saya harus kesana. Jurnalisme, di Universitas Indonesia.
"Waiting on the first step
Show where the key is kept
Point me down the right line because it's time"
Untuk itu pertama-tama saya harus lulus dari SMA. Dan saya lulus, dengan nilai UN MAFIKIBI yang buruk. Saya ga begitu peduli sebenarnya, yang penting langkah awal saya tempuh buat "the promised land."
Saya ga ikut undangan. Nilai senirupa di raport 69. Gara-gara saya ga ngumpulin tugas awal semester. Bisa memang buat dibenerin, ke gurunya waktu sebelum undangan. Tapi saya ga lakukan itu sebelum undangan, karena saya ga anggap tugas itu penting. Tapi pada akhirnya waktu hampir lulus dipaksa juga sama walikelas, daripada ribet lagi ya sudah lah.
Dari ga ikut undangan itu seengganya saya ga ada beban menunggu hasil. Saya fokus buat ngejar di ujian tulis. Setelah UN, saya naik Gunung Gede buat refreshing, sama Rijal, Farid, Cacun, Ading, dan Jadul. Nah, setelah refreshing itu saya punya waktu 2 bulan buat belajar IPS. Maka langkah selanjutnya saya ikut intensif di Inten. 2 bulan itu saya pakai buat nutup 3 taun yang dulu kering dan sia-sia.
"To let me in from the cold
Turn my lead into gold
'Cause there's chill wind blowing in my soul
And I think I'm growing old"
Les intensif juga kelas, dan kadang membosankan. Tapi apalah dua bulan buat empat tahun ke depan sederhananya. Pada pokoknya saya harus masuk Jurnalisme, dan itu di Universitas yang terbaik.Di baliknya memang ada ambisi tersendiri berdasar kejemuan dan harapan-harapan khusus. Jadi saya ikuti juga aturan mainnya, dan mencoba menjalaninya dengan kesenangan.
Waktu itu saya ke tempat les hampir selalu naik sepeda, kecuali kalau telat baru naik motor. Kesenangannya itulah, sambil main sepeda, kadang juga ga langsung pulang. Ambil jalan memutar ke Pengky atau tempat-tempat yang bisa membangunkan memori romantis. Bagi saya sendiri memang romantisme merupakan aspek penting perjuangan. Dia bisa memacu hasrat. Selain itu naik sepeda sekalian juga untun ngikutin perjuangan di film "Le Grand Voyage"; makin sulit jalan ditempuh, maknanya makin kerasa.
"Flash the readies
Wot's...uh the deal?
Got to make to the next meal
Try to keep up with the turning of the wheel.
Mile after mile
Stone after stone
Turn to speak but you're alone
Million mile from home you're on your own"
Kalau belajar itu mudah, maka apa artinya belajar? Gitu mungkin rasanya di dua bulan itu. Belajar itu tak mudah, banyak gangguannya. Belum lagi nilai-nilai Try Out yang masih jauh dari target. Kalau kata anak gaul Bandung sih, bikin merod.
Rasa bosan jangan ditanya. Selalu ada. Dan ia suka mengalihkan fokus kepada hal-hal lain. Saya bisa rasakan ketika dirumah harusnya waktu diisi dengan belajar materi yang belum dipahami, eh itu pemain saya di Football Manager manggil-manggil. Belum lagi Marlon Brando, Al Pacino, Robert De Niro, minta ditonton di tiga seri film The Godfather. Akhirnya apa boleh buat. Kalau dipaksa ga dipenuhi, ngebatin juga buat belajar.
"So let me in from the cold
Turn my lead into gold
'Cause there's chill wind blowing in my soul
And I think I'm growing old'"
Tapi pada akhirnya, setelah match-match menegangkan di FM, setelah drama drama ironis di The Godfather, saya ketemu juga dengan kesunyian di malam yang kosong. Dan kesunyian itu sebenarnya punya maksud baik. Ia mengajak diri kita untuk lebih reflektif. Ditengah kesunyian itu saya ngobrol sama diri sendiri, bahasa gaul anak komunikasinya "Komunikasi Intrapersonal", dan pada akhirnya saya kembali diingatkan pada tujuan saya untuk belajar.
"Fire bright by candlelight
And her by my side
And if she prefers we will never stir again"
Di lain pihak, saya juga selalu teringat. Di lain tempat ada juga yang sedang dalam perjuangan semacam. Ya, banyaklah memang anak baru lulus SMA ngejar ujian tulis. Tapi bukan beribu-ribu orang itu juga yang jadi bahan pikiran. Malah sebenarnya ini bukan soal pikiran, tapi perasaan, yang spesifik dan merujuk pada pribadi. Yang biasa jadi bahan semangat dan harapan, untuk menghibur diri dari kelelahan. Walaupun sebenarnya antara kita dan subjek perasaan itu terhampar jarak, pada lorong-lorong sunyi yang kala itu belum pernah saya masuki. Dan jarak itu seakan makin menjauh. Tapi saya tetap buat itu jadi bahan untuk kembali pada tujuan.
"Someone said the promised land
And I grabbed it with both hands
Now I'm the man on the inside looking out"
Pada akhirnya hari tes, ujian tulis SBMPTN dan Mandiri. Selain Universitas Indonesia, tak ada yang saya pilih. Dan Komunikasi jadi jurusan pilihan pertama di tiap tesnya, karena studi Jurnalisme ada di dalamnya. Jujur saya sangat ceroboh waktu ujian, pada soal-soal sejarah saya tak cermat, dan itu kembali membuat saya "merod".
Tapi akhirnya nasib berkata lain, di hari pengumuman saya diterima di pilihan pertama itu. Senang, ada, tapi ada juga hal lain yang membuat saya khawatir. Lalu setelah penerimaan itu proses administrasi di tuntaskan. Saya pindah ke Depok, dan bertemu juga dengan Universitas Indonesia yang kemarin-kemarin saya inginkan itu. Buku, Pesta, dan Cinta, jadi bayangan awalnya. Saya benar benar mengagumi slogan itu. Lebih dari Veritas, Probitas, Iustisia. Karena saya bisa melihat pada slogan itu mahasiswa sebagai intekektual dan kaum muda.
"Hear me shout "Come on in,
What's the news and where you been?"
'Cause there's no wind left in my soul
And I've grown old"
Dan kini, satu semester kemarin sudah saya lalui. Saya menemukan sedikit kesenangan untuk belajar di kelas bersama dosen. Tapi ada juga perasaan aneh hidup di tengah-tengah miniatur indonesia ini.
Sering saya buka kembali tulisan Gie di tahun pertamanya. Dan saya belum menemukan yang Gie temukan. Saya lebih sering melihat wujud-wujud yang menyerupai siswa baru di SMA saya. Ada memang diantaranya yang bisa saya terima, dan saya akui dia bisa jadi teman yang membangun, namun saya lebih sering merasa aneh disini.
Saya jadi teringat kata teman saya ketika berkomentar rencana saya pindah haluan ke Depok, "Yakin? Aku ga yakin lingkungan itu cocok buat kamu. Apalagi SosPol." dan dengan polosnya saya cuma menjawab "Aku kagum sama angkatan 66."
Istilah "The time's they are changin'" itu mungkin ada benarnya. Kata teman saya itu juga mungkin ada benarnya. Karena kadang, ketika saya sudah sampai disini setelah berjuang sebelumnya, malah saya dipertemukan kembali dengan kejemuan. Dan malah saya lebih sering kembali merindukan masa masa sekolah dulu, yang sebenarnya bukan diisi dengan sekolah. Juga pada teman-teman yang memang tumbuh besar bersama saya, yang juga melewati pergaulan dan proses yang sama. Ya, pada masa masa akhir itu saya memang terlalu melihat ke depan. Tanpa tahu sebenarnya apa yang menunggu disana. Melupakan apa yang akan saya tinggalkan di belakang. Karena itu sering juga saya pulang ke Bandung untuk mengisi kerinduan-kerinduan itu. Ada daripadanya momen pulang yang saya ingat. Salah satunya ucapan Tarso yang saya temui ketika pulang :
"Mungkin kita terlalu cepat tumbuh besar."
Entahlah So, mungkin kita saja yang tambah tua. Tapi tak kunjung dewasa untuk menerima.

