Tampilkan postingan dengan label sman 5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sman 5. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juni 2015

Kabar Buat Si Nduk : Dari Bawah Pohon


Nduk,

Seperti biasanya, selepas ngampus aku memilih untuk menghabiskan waktuku di taman lingkar depan perpustakaan, dibawah tiga batang pohon yang rindang. Ya, di kota yang untukku tidak nyaman ini ―karena panas, debu, dan orang-orangnya yang kurasai asing― bernaung dibawah teduhnya pohon kiranya bisa menjadi pilihan untuk merasa tenang. Setidaknya sampai waktu senja datang.

Menunggu senja dibawah rimbunan pohon sebenarnya sudah jadi kebiasaanku sedari dulu nduk. Tepatnya itu dimulai ketika waktu aku masih jadi siswa sekolah menengah atas, di taman yang terletak tepat disebelah sekolah. Bedanya, dulu ku tunggu senja itu sambil bercengkrama, bercanda, dan tertawa dengan kawan-kawanku sepulang sekolah. Namun kini, aku tinggal sendirian; bersama pikiranku dan bersamamu nduk, yang ada di dalam pikiranku.

Oh iya, nduk, ada satu pengalaman yang bisa kita saksikan ketika kita sengaja mencari teduh pada pepohonan. Pengalaman yang biasa saja sebenarnya, tapi entah kenapa, itu selalu jadi bahan perhatianku. Coba perhatikan olehmu nduk, alihkan pandangmu sedikit keatas. Selembar demi selembar dedaunan itu berjatuhan lepas dari tangkainya, sejenak melayang-layang, lalu kemudian jatuh; diterpa sepoinya angin. 

Kurasa seperti itulah memang kebiasaan sebuah pohon, nduk: menciptakan kuncup, membiarkannya tumbuh menjadi daun, lalu membiarkannya lepas diterpa angin ketika sudah pada waktunya. Seperti kita juga bukan, yang sering menumbuhkan harapan, namun pada akhirnya pada suatu ketika kenyataan berbicara, memaksa kita rela untuk melepasnya.

Ya, memang, pengalaman yang biasa saja dan jarang diperhatikan kadang dapat dimaknai lebih oleh orang kurang kerjaan seperti kita. Orang-orang yang menyempatkan waktu untuk memperhatikan hal remeh-temeh. Memang, katanya kegiatan kurang kerjaan itu banyak dilakukan oleh para filsuf dan seniman. Tak jarang darisana lahir karya-karya besar. Tapi apalah kita kan nduk? Bukan seniman hebat juga kan kita. Seniman juga malah bukan. 

Tapi kamu pernah tau tentang lagu berjudul “Les Feuilles Mortes” nduk? Katanya karangan penyair perancis. Lagu itu menjadi populer ketika digubah oleh penulis lagu amerika, Johnny Mercer, yang menjadikannya sebuah lagu yang mungkin bapak dan ibu kita kenal dengan baik, dinyanyikan oleh penyanyi kulit hitam bernama Nat King Cole. Iya, judulnya yang itu: Autumn Leaves.

Iya, nduk, lagu itu mengambil metafora dari dedaunan dan dari angin sepoi itu. Berkisah tentang seorang yang memandangi musim gugur dari balik jendela, sambil merindukan pasangannya yang tidak dijelaskan kemana perginya.

Momen kerinduan disana disandingkan dengan pengalaman menyaksikan gugurnya daun-daun menjelang musim dingin. Lebih tragis lagi jika dilihat dari judul bahasa perancisnya: ketika daun-daun itu mati. Terkesan darinya ada suatu keharuan akan hilangnya sesuatu yang pernah menyatu dengan diri, yang digambarkan dengan hubungan antara keseluruhan pohon dan dedaunan yang sebelumnya merupakan kesatuan. 

Oleh karena itu, dengan lepasnya hubungan tersebut, ada semacam rasa keterpisahan, yang ada ―atau mestinya ada― kini telah tiada. Kemudian, dari dalam diri yang menyaksikan, memaknai momen tersebut, dan mengaitkannya kepada pengalaman pribadinya, terdapat semacam tuntutan agar yang hilang itu untuk kembali pulang. Tapi memang terkadang kita tak bisa berbuat banyak, seperti tokoh pada lagu itu; hanya bisa meratap dari balik jendela.

Seperti itukah memang rasa rindu itu, nduk? Mungkin. Aku sendiri tidak mau membuang waktu untuk mencari pengertian atau definisi yang jelas  dari rasa rindu itu. Aku lebih senang bersikap seperti filsuf ganteng kesukaanmu nduk, Si Albert Camus, yang berpendapat bahwa sejauh manapun ilmu pengetahuan menjelaskan, kita tak akan pernah dapat memahami dunia secara keseluruhan. 

Ya, seperti Camus yang lebih memilih menikmati menikmati garis-garis bukit dan mentari senja yang menyentuh hati yang gelisah daripada memahaminya, aku pun lebih memilih untuk menikmati dedaunan yang berjatuhan itu. Sambil sesekali mengulang bagian lirik dari lagu Autumn Leaves yang paling ku suka:

“But I miss you most of all, my darling, when autumn leaves.. start to fall..”

Jumat, 23 Mei 2014

Saya Kehilangan Selera

Sudah hampir setahun saya meninggalkan kehidupan putih-abu, dan dalam rentang hampir setahun itu, saya merasa bahwa kehidupan itu benar-benar saya tinggalkan dan kenangan pada waktu-waktu itu tinggal jadi potret yang hanya bisa saya ingat dengan miris; bahwa saya tidak akan pernah kembali kepada waktu-waktu tersebut dan terlalu banyak syarat yang harus dipenuhi untuk membuat keadaan hari ini menjadi ulangan dari sejarah tersebut.

Sore tadi saya baru ngobrol dengan sahabat saya di SMA, Alvin Noviansyah, lewat media layanan chat online tertunya karena kini kami tinggal di kota yang berbeda. Terlepas dari pembahasan sentimentil tentang wanita dan cinta, Alvin menunjukkan sebuah foto pada saya, foto dekoran. Dekoran monumental berbentuk kristal dengan cahaya biru yang terpendar, dekorasi itu dibuat dalam rangka menghias malam keakraban bagi mahasiswa SAPPK ITB 2013. Sangat baik untuk ukuran dekorasi skala acara internal, belum lagi hanya Alvin sendirian yang berpengalaman dan punya skill khusus untuk membuatnya dalam tim dekor. Jujur, saya merasa iri kepada sahabat saya tersebut, ia masih bisa membuat karya sebaik itu. Sementara saya disini merasa kering dan merasa kehabisan selera dalam berkarya. Walaupun pada pembicaraan itu Alvin pun bilang, bahwa ia pun merasakan suatu keterbatasan dalam berkarya kini.

Dekoran Alvin
Memang, bukan berarti di tempat saya kini tidak ada namanya kegiatan seni, kegiatan organisasi, atau kegiatan diskusi yang dulu saya dan Alvin sama sama hidupi. Kegiatan-kegiatan tersebut ada, namun tidak pernah terasa begitu menarik daripada kegiatan-kegiatan yang dulu pernah kami lakukan. Sederhananya, seolah aneh rasanya ketika mengetahui bahwa kami tidak bisa mewujudkan mimpi yang lebih besar daripada mimpi-mimpi yang dulu telah kami wujudkan. Bukan hanya dekoran, apa pun yang sifatnya karya besar seperti acara bazaar, promosi ekskul (mungkin kini namanya komunitas), kaderisasi, intinya suatu program kerja . Ada sesuatu yang hilang dalam yang namanya membuat karya-karya yang membanggakan, ada yang salah dengan yang namanya berorganisasi atau berhimpun atau membentuk kepanitiaan atau apapun itu, yang intinya berkumpul dan memiliki satu tujuan; dan sebagai istilah untuk menyebutnya sebut sajalah itu berorganisasi, karena sepolos-polosnya komunitas atau kepanitiaan dari aturan-aturan formal, ia tetap memiliki sistem pengorganisasian.

Saya bilang pada Alvin bahwa masalahnya adalah minim pikiran kreatif, sehingga setiap karya dari suatu kegiatan berorganisasi seolah itu-itu saja dan membosankan. Tapi dia memberikan pandangan lain, katanya, masalah ada pada orientasi individu-individu dalam berorganisasi, yang ia bilang sebagai "Orientasi Kehidupan Modern", dimana berorganisasi adalah untuk sekedar mencari pengalaman dan mengisi baris-baris kosong pada curriculum vitae (CV) bukan untuk berorganisasi itu sendiri; menghimpun individu kedalam suatu tujuan yang akhirnya menghasilkan suatu karya atau dampak-dampak dari tujuan tersebut. Sehingga mutu dari karya suatu kegiatan organisasi tidak terlalu penting bagi individu, yang lebih penting adalah individu mendapatkan nilai pengalaman dan nilai praktis berupa isian CV yang sah. Yang dibuat adalah bukan karya, melainkan sebuah rencana-rencana semata atau yang saya tafsirkan tentang rencana  maksudnya adalah step by step proyeksi program kerja, tanpa ada nyawa berupa hasrat berkarya pada program kerja tersebut. Saya setuju, tapi menanggapi kembali bahwa yang dibuat oleh kegiatan organisasi dalam orientasi tersebut juga tidak dapat selalu dipandang sebagai pembuatan rencana, karena biasanya rencana sudah tersedia sebagai prosedur turun-temurun, namun yang membedakan adalah cara pembungkusan rencana tersebut. Dan saya juga memandang, pergeseran orientasi berorganisasi ini memberikan dampak kepada pemahaman individu terhadap sistem kerja suatu organisasi, misalnya seperti penggunaan AD/ART dalam menentukan kebijakan, penggunaan struktur dalam sistem komando dan koordinasi, juga Hak, Wewenang, dan Kewajiban yang tidak menentu ketetapannya sehingga perilaku anggota organisasi seolah kurang teratur.

Saya kini memang tidak terikat pada organisasi manapun, tapi saya pernah mengalami suatu kegiatan berorganisasi disini atau mendengar pengalaman kawan-kawan saya yang ikut dalam suatu organisasi, dan saya menemukan kasus-kasus yang akar masalahya kembali pada yang dikatakan Alvin: Orientasi. Malah mungkin, kegiatan itu tanpa Orientasi sama sekali

Yang pasti, saya memang merasa kehilangan selera sekarang, dengan tidak menemukan ketertarikan dalam mengikuti kegiatan apa pun yang berbasis kerjasama. Dengan alasan, ketika melihat penyusunan acara dan organisasi tersebut, yang saya lihat hanya nilai-nilai kosong tanpa hasrat mencapai nilai-nilai tersebut.

Suatu karya yang baik, datang dari kerja yang baik, kerja yang baik datang dari pengorganisasian yang baik, pengorganisasian yang baik datang dari perancangan rencana dan dasar-dasar filosofis yang baik.

Apa itu baik? Mampu memberikan jawaban lurus dalam setiap pertanggungjawaban atas karya tersebut.

Minggu, 09 Maret 2014

Biru Donker

"Semalam sama maraneh lebih berarti daripada seminggu di ITB." - Alvin Noviansyah

"Semalam sama maraneh lebih berarti daripada satu semester di UI" - Aing

"Aing malah ngerasa aing bukan bagian dari UNPAD!" - M. Arnaldo "Tarso" Budyawan

Sebenarnya apa yang saya kutip diatas tak benar benar terucap. Cuma kata-kata Alvin yang nyata pernah diutarakan. Tapi bila pernyataan Alvin itu mau diberi perbandingan, mungkin itulah yang saya dan tarso akan nyatakan.

Jum'at sore ada laporan awal (LA) program kerja angkatan yang baru menjabat. Selepas dari sana malam masih sayang untuk disiasiakan dengan pulang ke rumah masing-masing. Sayang betul, karena jarang kami berkumpul kembali selepas masa SMA. Saya di Depok, tenggelam ditengah lingkungan politik tai kucing. Alvin di ITB, sibuk oleh rumus dan muak oleh lingkungan yang penuh tekanan IP tinggi. Ali di Bandung juga, calon mahasiswa USA yang belum juga dapet Visa. Farid pernah di Polban, tapi memutuskan untuk ngulang ke UNPAD. Kalau Tarso di UNPAD, dia jadi mahasiswa KUPUKUPU MATI, Kuliah Pulang - Kuliah Pulang.. Malam Party. Selain mereka ada juga Iskandar dan Dio, anak Telkom dan Ars Unpar, yang sehabis LA pisah rombongan gatau kemana. Dan selain kami bertujuh juga, sebenarnya ada 22 orang lagi dari "kami" yang ga ada di LA. Kumpul Fullteam udah susah makin susah. Maka selepas LA itulah, mumpung ada momen kumpul kecil, rombongan 5 orang tanpa si Iskandar dan si Dio ngopi cantik di Jalan Sumatera.

Bisa di bilang kami-kami yang ngumpul malam itu pria-pria gagal  move on. Baik itu move on dari lingkungan SMA, maupun dari... ah tai. Ya singkatnya gitu lah, kami udah lulus dari SMA dan dari Ekskul kami. Tapi, kenyamanan nyatanya masih ada di tempat yang seharusnya kami telah jauh tinggalkan. Kami bukan semacam orang-orang yang punya style sama, selera musik sama, ataupun pandangan hidup yang sama. Bukan. Tiap dari kami punya perbedaan yang bahkan sangat jauh jaraknya. Katakanlah saya, yang selalu menilai musik-musik olahan DJ tidak lebih baik daripada suara kentut, juga gaya hidupnya. Tapi diseberang meja sana saya berhadapan juga dengan Tarso dan Ali, duaduanya DJ. Tapi entahlah, kami bisa menerima kehadiran masing-masing di meja kopi malam itu.

Semuanya berawal ketika saya masuk SMA, di Belitung Timur. Sekolah yang punya ciri khasnya sendiri, yaitu ekskul dan kebebasan. Berbeda dengan sodaranya, Belitung Barat yang lebih ke arah murni akademis, kami biasa sindir mereka dengan umpatan "bau rumus". Dalam memilih ekskul di Belitung Timur saya merasa ga terlalu susah, teman SMP saya pernah ngasih saran untuk pilih ekskul senirupa dan dekorasi; Rancang Bangun. Ya, bocah ingusan itu dulu memang inginnya jadi seniman.

Saya masih ingat yang nempel poster RB di kelas MPLS saya waktu itu my brader LZ, Luthfi Zulkifli, yang kelak jadi koordinator saya di Divisi Warna. Setelah MPLS beres dan masa pendaftaran ekskul dimulai, daftarlah saya ke "spot" dan mulai ikut rangkaian seleksi.

Seleksi pertama adalah menggambar dan ekspresi. Seingat saya waktu itu ada sekitar 86-88 calon. Banyak juga yang daftar, tapi dari desas desusnya saya dengar ga akan lebih dari 5 orang dari tiap divisinya yang bakal di terima. Yang daftar juga bermacam orang, dari anak culun, anak preman, yang kaya brontosaurus (si ali), gadis manis berkemeja putih, anak viking persib adiknya ekomaung, segala ada. Dari awal ini kami memang sudah bisa melihat perbedaan diantara kami semua sebagai calon anggota. Tapi kalau saya beralih pandang ke kursi dewan pengurus, coy, satu warna biru donker deh.

Sebelum tes gambar serius kami para calon disuruh gambar bebas. Dan karena si aing dari dulu memang manusia yang seperti ini yah, bingung juga disuruh gambar bebas, akhirnya saya coba aja gambar semaunya, dan jadilah di kertas itu anak tuyul lagi kencing lengkap dengan alat kopulasinya. Dan jadilah gambar itu bahan eme eme senior. Kampret. Saya buat kesan buruk di hari pertama saya pikir. Sehabis itu seleksi yang serius dimulai, gambar dan ekspresi, cukup lama sampai hari mulai sore buat begituan doang. Selesai seleksi ternyata ada pembagian kelompok untuk seleksi selanjutnya : hasta karya.

Hasta karya itu semacam dekoran kecil. Dikerjain sama 9-10 orang, walaupun ada grup super yang isinya 5 orang karena telat ikut, itu kelompoknya si Tomi dan Bundo. Saya sendiri masuk ke kelompok 3, isinya 10 orang. Di kelompok inilah saya ketemu anak keturunan cina yang sampe sekarang jadi salah satu partner in crime saya : Alvin. Selain Alvin di kelompok 3 saya ketemu juga sama Putsop, bule garut yang kerjanya keliling dunia. Juga si Dio yang Arsi Unpar tadi, anak cowo yang selalu punya probabilitas tinggi buat dapet angket terganteng di syukuran RB.

Di kelompok 3 itu kami bikin "Mesi", Meja Inspirasi, meja laptop lengkap dengan kipas pendingin lengkap dengan rak buku. Bentuknya monster gelondongan kayu yang lagi mangap. Pokonya keren. Saya nilai Mesi saya ini paling bagus daripada yang lain. Ya kalau pun ada yang bilang ga bagus, saya yakin bukan yang paling buruk. Karena yang paling buruk itu rak sepatunya kelompok Ibo, hahaha.

Ibo, Luthfi Arief pria berambut kribo, orang selain Alvin yang saya percaya cocok untuk jadi kepala di angkatan kami ketika masa pra-dewan pengurus, hobinya dagang, dan kini kuliah dan aktif di SBM ITB. Ali sering sebut Ibo sebagai "The Special One". Karena dialah orang satu-satunya yang lulus jadi anggota RB dari kelompok yang bikin rak sepatu bentuk sepatu yang absurd itu. Tapi maklum, pada dasarnya produk hasta karya itu memang gajelas semua. Kebanggaannya ya kesunyian masing-masing lah.

Sampai pada akhirnya hari penerimaan yang konyol. Iya, konyol kan waktu itu. Saya ga mau ceritain. Yang waktu itu pernah disana inget aja sendiri konyolnya dimana. Di hari itulah pengumumannya, siapa saja yang punya hak untuk jadi anggota resmi RB. Yang waktu di awal penentuannya pakai dekoran yang bisa ngomong gitu deh. Cuma sekitar 5 orang yang naik ke dekoran itu. Diantaranya ada Baim, atau Ibrahim Paranggupito, darah biru dari persib kental mengalir di darahnya, sangat lihai dalam mencuri lampu taman di perkotaan. Ada juga Aput, cewe yang tanggal lahirnya sama kaya saya, kalau ngambek kayanya galak. Si Ali juga termasuk yang naik, si brontosaurus wikipedia berjalan, tertarik ke hal-hal yang bau baunya amerika kaya glee, navy seal, nasa, dll.

Nah, habis orang-orang yang naik ke dekoran itu pada selesai, barulah dibentangin spanduk. Isinya ada 30 nama yang dibagi ke 4 Divisi; Rangka 9 orang, Warna 7, Listrik 5, Pernak-Pernik 9. Dan ada juga nama saya, dibawah namanya si Adit Titit, jago gambar yang sekarang kuliah di Malaysia. Itu berarti saya keterima. Dan ternyata selain saya, ada juga yang keterima, brengsek yang saya kenal dari jaman SMP, orang yang baru pertama kenal pasti nilai ini anak paling songong yang diciptakan Tuhan; Arnaldo, kelak dapet  panggilan Tarso.

Selain Tarso, kenalan SMP lain yang ternyata diterima jadi anggota RB juga banyak. Ada Farid, bocah yang sering saya temuin di gerbang SMP, karena kita sering dateng ke sekolah bareng, dalam artian telat. Nantinya Farid jadi Koordinator Divisi Rangka. Ada juga Ipat alias Dendito, manusia nekat yang akhirnya diasingkan. Yang nantinya juga sempat jadi Koordinator Divisi Listrik. Ada juga Karin, cewe super yang bisa menularkan enerjinya ke seantero angkatan, motivator sejati dari naknik. Ada Rijal The Speed Demon, doyan balap dan partner utama buat naik gunung dan travelling. Ada juga Fira atau Bundo, mother of all mother. Heaa.

Sehabis penerimaan, kami belum resmi jadi anggota. Ada Pelantikan atau Pengukuhan. Ya gitu deh pengukuhan. Pra-pengukuhan kita-kita latihan push-up coy di pinggir kolam rumah Tarso kaya orang sarap. Ga banyak juga yang bisa diceritain di malam pengukuhannya. Saya masuk ke kelompok 2. Bareng Ibo, Dio, Putsop, Ali, Fira. Selain itu ada Aldi, manusia dari pedalaman katapang, lihai main gitar dan selalu ketangkep kamera kalo lagi tidur pas gawe/pemasangan. Sekelompok juga sama Sisil, Silmina Adzhani, cewe yg pake kemeja putih di seleksi pertama itu. Juga sama si Cacun, Rapsa, temen sebangku dari kelas XI-XII, pemegang jabatan Koordinator Umum nantinya.

Oh, ada juga yang ga ikut pengukuhan. Ditengah jalan ke jayagiri dia dibawa ke RS, sakit demam berdarah. Rian Karya. Siapa Rian Karya? jawabannya singkat aja : The Godfather.

Setelah resmi jadi anggota dan dapet syal, mulai lah kami ikut gawe di proker-proker, dari awalnya syukuran di rumah Ummi Tetha, RB Gathering, dan terus berlanjut ke proker di kepengurusan 2012 seperti bazaar, malam syukuran kelulusan, rangkaian seleksi, pengukuhan, RB Cafe, sampe ke Pra DP dan DP. Lewat semua proker itulah 30 anak ingusan belajar, berkarya, dan yang paling penting dipaksa bersama.

Kami memang selalu dipaksa untuk bersama. Saking dipaksanya ada diantara kami yang muak juga. Termasuk saya, di akhir kepengurusan waktu jadi Koordiv Warna. Males rasanya liat rancangan, cat, acian yang belum diplamir dan muka-muka kaya si Iskandar, Aldi, Cacun, dan Doni. Tapi ga bisa dipungkiri juga, ada indahnya perjalanan dari Kelas X sampai Kelas XII itu. Manis rasanya ketika buka arsip laptop yang isinya foto-foto gawe dan karya-karya yang kami buat. Jujur, saya berani ngadu dekoran sama siapapun kalo kerja bareng lagi sama Biru Donker 2013. Kami punya komposisi yang lengkap. Sebagai sekelompok "seniman" kami mumpuni, Konseptor - Worker - Motivator kami punya.

Konseptornya pun macem-macem, dari yang tipe pemikir liar kaya Rolly, Tomi, dan Adit sampai ke yang tipe lebih mempertimbangkan aspek realistis atau tidaknya kaya Wirestu, Doni, Megan, Ali, Dio dan mungkin si aing, dan mungkin banyak lagi.

Worker, kami punya otot-otot baja semacam Samson dan Redinal. Terlebih Samson, si ringan tangan yang kalau ga ada gawepun dia nyari kerjaan sendiri, motongin bambu/kayu tanpa alasan. Selain itu ada juga Worker-worker yang tipenya "Work Smart" yang taktis; diantaranya Ketua kami si Alvin, Ibo, Rian, Duo ahli listrik Rijal - Ading, dan Baim "The Lightning Thief".

Motivator, yang paling saya catat seumur hidup saya ada dua motivator sejati di dalam tim, yang bisa membangun suasana gawe kembali penuh tawa : cowonya si Iskandar, dan cewenya ya si Karin.

Tapi memang sebagai "pengurus" kami kelabakan. Karena kami ga suka diatur, dan mengatur. Kaidah merancang lalu membangun pun kadang ga sepenuhnya kami taati. Kami ngedekor jarang dituntun sama rancangan yang rapi. Entah kenapa, rasanya PD aja. Orientasi kami memang lebih ke seni dan segala hal yang bikin senang, hedonist mungkin. Ini bisa diliat nantinya ketika kami udah jadi Alumni. Pembawaan kami datang lagi ke RB ya buat santai dan senang-senang.

Di Belitung Timur segerombol Biru Donker ini stereotipnya adalah kumpulan yang eksklusif. Mungkin ya, mungkin ngga. Kalau di liat dari anak-anak cowonya, mungkin bisa dibilang iya ketika kami datang ke kumpul sekolah sebagai serombongan. Mungkin bisa diingat insiden "Dengan Membeli Aqua" di aula gedung lama yang konyol itu, yang berakhir dengan si Alvin hampir dilabrak sama salahsatu panitia karena kala itu cowo-cowo Biru Donker buat panitia jengkel. Dengan jalan pikiran khas Biru Donker; yang katanya didasari oleh didikan dari ruang dan waktu. Lebaynya gitu, tapi kalau dipikir ada benernya.

Tapi yang lebih indah lagi sebenarnya bukan karya-karya itu, bukan juga jalan pikiran yang sering membuat Biru Donker serasa pasukan dari Mount Olympus yang siap mengacak-acak musuh di medan intelektual. Bukan kedua hal itu. Keindahan lebih sering datang di waktu dan tempat yang sederhana. Pada waktu dimana bel sekolah baru berdering, dan kita langsung melangkahkan kaki ke sudut Taman PLN itu. Duduk di langkan kursi DP, dibawah pohon rindang sambil berwacana menunggu senja yang belum juga datang. Seringkali begitu lucunya saat-saat itu, seperti ketika Aldi dan Redinal yang saling membalas ejekan, antara "Si Bibir dan Si Item", atau ketika kita Bully si Tomi yang cintanya kandas oleh adik kelas; "Aing Tomi, maneh F*t* ah? Sori nya nu kamari." begitulah kira kira yang sering kita ungkit dan tertawakan.

Selain itu bisa kita ingat rumah kedua anak Biru Donker, Rumah Tarso. Lengkap dengan kamarnya dan naknik ke-10 kita ; Bi Ngkay. Kamar Tarso memang unik, mungkin yang namanya Pluralisme itu ya apa yang sering terjadi disana. Coba bayangkan sebuah kamar besar, sudutnya empat. Di satu sudut kita bisa lihat orang-orang religius seperti Rijal solat, di sudut lain ada yang nangkring sambil ngomongin sejarah dan sains, di dekat kasur bisa ditemukan anak-anak yang lagi mencampur Jack Daniel's dengan Coca-Cola atau Green Sands lengkap dengan rokoknya, dan disudut terakhir ada meja komputer, biasa dipakai main PES atau ngebokep. Kami gak perlu ditatar konsep toleransi, kami gak perlu filsafat postmodernisme yang kaya tai itu, kami ga perlu juga memandang darimana dia datang dan akan seperti apa. Di ruang kamar itu secara natural kami bisa berbagi bersama kegiatannya masing-masing, dalam kebahagiaannya masing-masing.

Memang sulit untuk kembali seperti dulu dan mencoba membangun kembali kenangan indah itu. Selepas SMA, sekarang disinilah kami, sekelompok kecil di meja kopi, berbicara tentang kenangan, hidup, dan cinta. Malam Sabtu yang basah di Kota Bandung. Malam Sabtu yang jarang kita dapatkan. Kini semuanya punya kesibukan dan masalahnya masing-masing, sehingga kesempatan untuk bertemu sapa menjadi berharga bagi yang ingin mengingat kembali hari-hari emas itu. Sekedar mengingat, tak bisa kembali lagi kesana. Seperti yang Tarso bilang :

"Hari Senin nanti kita akan kembali ke kampus masing-masing."

Dan ditambah lagi oleh nyanyian si Iskandar di Minggu Pagi :

"Ke Jakarta Aku kan' kembaliiii. Walaupun apa yang kan' terjadiiii.."

Jumat, 21 Februari 2014

Wots... Uh The Deal

Ini post sambil lagu-laguan, kalo mau denger lagunya, Pink Floyd - Wot's... Uh The Deal, bisa kesini atau download sendiri.

--------------------------------------------

*Intro Guitar

Masa SMA memang masa yang paling indah. Apalagi buat saya, yang jarang belajar di kelas selepas dari kelas X. Bagi saya yang benar-benar mendidik saya sama sekali bukan sekolah, tapi perpustakaan. Ruang kelas itu penjara dan guru itu sipirnya, kalo kata John Nash di film "A Beautiful Mind" sih, kelas menghambat kreatifitas, dan ini benar- benar terasa buat saya, apalagi waktu kelas XI.

Saya memang ga cocok di kelas. Di kelas saya bertemu guru matematika, fisika, kimia, bahasa dll. yang ngatur ba-bi-bu dan juga ngasih tugas-tugas. Yah, saya tau itu menurut pada silabus yang dirancang buat membentuk siswa. Tapi saya lebih setuju sama gagasannya Roger Waters : "We don't need no thoughts control." tapi bukan berarti kita biarkan diri kita kosong dari pemikiran apa pun, kita punya kebebasan untuk memilih apa yang ingin kita pelajari. Dan kebebasan itu saya temukan di perpustakaan. Disana ilmu tidak menuntut, tapi mengajak kita untuk senantiasa berpikir. Saya kira malah itulah arti penting pembelajaran; sebuah ajakan tulus ke pintu-pintu yang memang kita belum pernah masuki dalam relung pengetahuan.

"Heaven sent the promised land
Looks alright from where I stand
'Cause I'm the man on the outside looking in"

Saya paling sering ke perpustakaan pagi-pagi, karena.saya sering terlambat, dan yang terlambat disuruh diam di perpustakaan. Ya alhamdulillah, saya malah jadi nyaman buat terlambat kalo aturannya seperti itu. Dari perpustakaan dan minat membaca tumbuh banyak guru-guru baru yang saya temui, seperti Niccolo Machiavelli, Umar Kayam, Mochtar Lubis, Pramoedya Ananta Toer, dan banyak lagi. Diantara mereka-mereka, yang paling berpengaruh buat saya di masa SMA ada dua, yang pertama Pram, dan yang kedua adalah Soe Hok Gie.

Seberapa pengaruh? besar. Mereka memberikan pandangan bahwa kebenaran, ilmu, dan pengetahuan adalah hal-hal yang indah. Perjuangan Minke di Tetralogi Buru dan Catatan harian Gie sebagai mahasiswa memberi pengaruh yang besar bagi saya. Bisa dibilang, saya mencoba mengikuti jejak langkah mereka. Ada memang yang terkorbankan dalam hal ini, mimpi saya untuk menjadi seniman terasa hambar. Saya lebih tertarik untuk memandang kedua orang itu, Minke dan Gie, dua duanya penulis. Minke adalah alter ego dari Tirto Adhisoerjo, pahlawan nasional di bidang pers. Gie, tulisannya yang tajam banyak dimuat di koran nasional masa itu. Dari mereka tumbuh mimpi baru, menjadi seorang Jurnalis. Tapi di mana? Minke pernah belajar di STOVIA sebentar, Gie di Universitas Indonesia. STOVIA dalam sejarahnya berubah jadi FKUI. Ya, saya harus kesana. Jurnalisme, di Universitas Indonesia.

"Waiting on the first step
Show where the key is kept
Point me down the right line because it's time"

Untuk itu pertama-tama saya harus lulus dari SMA. Dan saya lulus, dengan nilai UN MAFIKIBI yang buruk. Saya ga begitu peduli sebenarnya, yang penting langkah awal saya tempuh buat "the promised land."

Saya ga ikut undangan. Nilai senirupa di raport 69. Gara-gara saya ga ngumpulin tugas awal semester. Bisa memang buat dibenerin, ke gurunya waktu sebelum undangan. Tapi saya ga lakukan itu sebelum undangan, karena saya ga anggap tugas itu penting. Tapi pada akhirnya waktu hampir lulus dipaksa juga sama walikelas, daripada ribet lagi ya sudah lah.

Dari ga ikut undangan itu seengganya saya ga ada beban menunggu hasil. Saya fokus buat ngejar di ujian tulis. Setelah UN, saya naik Gunung Gede buat refreshing, sama Rijal, Farid, Cacun, Ading, dan Jadul. Nah, setelah refreshing itu saya punya waktu 2 bulan buat belajar IPS. Maka langkah selanjutnya saya ikut intensif di Inten. 2 bulan itu saya pakai buat nutup 3 taun yang dulu kering dan sia-sia.

"To let me in from the cold
Turn my lead into gold
'Cause there's chill wind blowing in my soul
And I think I'm growing old"

Les intensif juga kelas, dan kadang membosankan. Tapi apalah dua bulan buat empat tahun ke depan sederhananya. Pada pokoknya saya harus masuk Jurnalisme, dan itu di Universitas yang terbaik.Di baliknya memang ada ambisi tersendiri berdasar kejemuan dan harapan-harapan khusus. Jadi saya ikuti juga aturan mainnya, dan mencoba menjalaninya dengan kesenangan.

Waktu itu saya ke tempat les hampir selalu naik sepeda, kecuali kalau telat baru naik motor. Kesenangannya itulah, sambil main sepeda, kadang juga ga langsung pulang. Ambil jalan memutar ke Pengky atau tempat-tempat yang bisa membangunkan memori romantis. Bagi saya sendiri memang romantisme merupakan aspek penting perjuangan. Dia bisa memacu hasrat. Selain itu naik sepeda sekalian juga untun ngikutin perjuangan di film "Le Grand Voyage"; makin sulit jalan ditempuh, maknanya makin kerasa.

"Flash the readies
Wot's...uh the deal?
Got to make to the next meal
Try to keep up with the turning of the wheel.

Mile after mile
Stone after stone
Turn to speak but you're alone
Million mile from home you're on your own"

Kalau belajar itu mudah, maka apa artinya belajar? Gitu mungkin rasanya di dua bulan itu. Belajar itu tak mudah, banyak gangguannya. Belum lagi nilai-nilai Try Out yang masih jauh dari target. Kalau kata anak gaul Bandung sih, bikin merod.

Rasa bosan jangan ditanya. Selalu ada. Dan ia suka mengalihkan fokus kepada hal-hal lain. Saya bisa rasakan ketika dirumah harusnya waktu diisi dengan belajar materi yang belum dipahami, eh itu pemain saya di Football Manager manggil-manggil. Belum lagi Marlon Brando, Al Pacino, Robert De Niro, minta ditonton di tiga seri film The Godfather. Akhirnya apa boleh buat. Kalau dipaksa ga dipenuhi, ngebatin juga buat belajar.

"So let me in from the cold
Turn my lead into gold
'Cause there's chill wind blowing in my soul
And I think I'm growing old'"

Tapi pada akhirnya, setelah match-match menegangkan di FM, setelah drama drama ironis di The Godfather, saya ketemu juga dengan kesunyian di malam yang kosong. Dan kesunyian itu sebenarnya punya maksud baik. Ia mengajak diri kita untuk lebih reflektif. Ditengah kesunyian itu saya ngobrol sama diri sendiri, bahasa gaul anak komunikasinya "Komunikasi Intrapersonal", dan pada akhirnya saya kembali diingatkan pada tujuan saya untuk belajar.

"Fire bright by candlelight
And her by my side
And if she prefers we will never stir again"

Di lain pihak, saya juga selalu teringat. Di lain tempat ada juga yang sedang dalam perjuangan semacam. Ya, banyaklah memang anak baru lulus SMA ngejar ujian tulis. Tapi bukan beribu-ribu orang itu juga yang jadi bahan pikiran. Malah sebenarnya ini bukan soal pikiran, tapi perasaan, yang spesifik dan merujuk pada pribadi. Yang biasa jadi bahan semangat dan harapan, untuk menghibur diri dari kelelahan. Walaupun sebenarnya antara kita dan subjek perasaan itu terhampar jarak, pada lorong-lorong sunyi yang kala itu belum pernah saya masuki. Dan jarak itu seakan makin menjauh. Tapi saya tetap buat itu jadi bahan untuk kembali pada tujuan.

"Someone said the promised land
And I grabbed it with both hands
Now I'm the man on the inside looking out"

Pada akhirnya hari tes, ujian tulis SBMPTN dan Mandiri. Selain Universitas Indonesia, tak ada yang saya pilih. Dan Komunikasi jadi jurusan pilihan pertama di tiap tesnya, karena studi Jurnalisme ada di dalamnya. Jujur saya sangat ceroboh waktu ujian, pada soal-soal sejarah saya tak cermat, dan itu kembali membuat saya "merod".

Tapi akhirnya nasib berkata lain, di hari pengumuman saya diterima di pilihan pertama itu. Senang, ada, tapi ada juga hal lain yang membuat saya khawatir. Lalu setelah penerimaan itu proses administrasi di tuntaskan. Saya pindah ke Depok, dan bertemu juga dengan Universitas Indonesia yang kemarin-kemarin saya inginkan itu. Buku, Pesta, dan Cinta, jadi bayangan awalnya. Saya benar benar mengagumi slogan itu. Lebih dari Veritas, Probitas, Iustisia. Karena saya bisa melihat pada slogan itu mahasiswa sebagai intekektual dan kaum muda.

"Hear me shout "Come on in,
What's the news and where you been?"
'Cause there's no wind left in my soul
And I've grown old"

Dan kini, satu semester kemarin sudah saya lalui. Saya menemukan sedikit kesenangan untuk belajar di kelas bersama dosen. Tapi ada juga perasaan aneh hidup di tengah-tengah miniatur indonesia ini.

Sering saya buka kembali tulisan Gie di tahun pertamanya. Dan saya belum menemukan yang Gie temukan. Saya lebih sering melihat wujud-wujud yang menyerupai siswa baru di SMA saya. Ada memang diantaranya yang bisa saya terima, dan saya akui dia bisa jadi teman yang membangun, namun saya lebih sering merasa aneh disini.

Saya jadi teringat kata teman saya ketika berkomentar rencana saya pindah haluan ke Depok, "Yakin? Aku ga yakin lingkungan itu cocok buat kamu. Apalagi SosPol." dan dengan polosnya saya cuma menjawab "Aku kagum sama angkatan 66."

Istilah "The time's they are changin'" itu mungkin ada benarnya. Kata teman saya itu juga mungkin ada benarnya. Karena kadang, ketika saya sudah sampai disini setelah berjuang sebelumnya, malah saya dipertemukan kembali dengan kejemuan. Dan malah saya lebih sering kembali merindukan masa masa sekolah dulu, yang sebenarnya bukan diisi dengan sekolah. Juga pada teman-teman yang memang tumbuh besar bersama saya, yang juga melewati pergaulan dan proses yang sama. Ya, pada masa masa akhir itu saya memang terlalu melihat ke depan. Tanpa tahu sebenarnya apa yang menunggu disana. Melupakan apa yang akan saya tinggalkan di belakang. Karena itu sering juga saya pulang ke Bandung untuk mengisi kerinduan-kerinduan itu. Ada daripadanya momen pulang yang saya ingat. Salah satunya ucapan Tarso yang saya temui ketika pulang :

"Mungkin kita terlalu cepat tumbuh besar."

Entahlah So, mungkin kita saja yang tambah tua. Tapi tak kunjung dewasa untuk menerima.

Sabtu, 15 Februari 2014

Inovasi : Part #1

Inovasi adalah kata yang memuakkan bagi saya pribadi. Bukan saya tidak suka pada pengaruh teknologi baru kepada kehidupan, tidak sejauh itu kata inovasi mengganggu saya, inovasi disini yang ruang lingkupnya kecil saja, ialah ketika kata inovasi dibahas pada rapat-rapat organisasi, kepanitiaan, dan rapat sejenis yang bermaksud untuk membahas pembuatan suatu karya yang biasa menghadirkan rasa tak nyaman kepada saya. Pengalaman itu banyak saya alami ketika saya masih SMA.

Saya sering menghadiri rapat. Diantaranya rapat organisasi internal dimana saya menjadi anggotanya, dan rapat dalam skala yang lebih besar berupa kepanitiaan sekolah. Keduanya punya persamaan, membahas konsep dari suatu karya, dan sering pula menyinggung kata inovasi. Tapi bisa dilihat perbedaannya dari bagaimana cara konsep itu didapat. Dan bisa saya bilang, biasanya benar benar berbeda. Sehingga ketika anggota dari organisasi kami hadir ke lingkungan sekolah yang lebih luas sering terjadi perbedaan pendapat. Bahkan kadang bisa begitu emosional. Saya ingat betul ketua saya waktu itu, Alvin Noviansyah, membuat berang jajaran kepanitiaan di rapat besar. Memang anggota Alvin yang lain pun dinilai "bebal". Tapi sialnya,Alvin adalah ketuanya.

Seperti yang dibilang diatas, antara kami dan panitia memang punya cara yang beda dalam merancang konsep bagi sebuah karya. Dari sanalah dasar dari perselisihan tersebut, konsep yang diberikan oleh satu pihak tidak dapat dimengerti oleh yang lain. Sehingga sulit terjadi kesepakatan tentang bentukan karya seperti apa sebenarnya yang akan kita buat. Kalau berbicara inovasi, tentu akan lebih pelik lagi. Pada dasarnya inovasi adalah karya juga, namun memiliki sifat kebaruan, spesifiknya ia punya manfaat baru untuk mencapai tujuan. Baik itu yang sifatnya alternatif, atau yang memiliki nilai efektifitas dan efisiensi yang lebih mampu membawa kita pada tujuan. Namun apa yang disebut dengan inovasi yang lahir dari konsep yang di bahas pada rapat-rapat tersebut, baik tingkat organisasi maupun tingkat sekolah, biasanya tidaklah memenuhi syarat untuk disebut inovasi. Mengapa? karena ia biasa lahir dengan cara dan alasan yang salah. Ia lahir karena tuntutan pembaruan.

Pertama kita akan berbicara "Inovasi" yang lahir dari konsep yang dibuat di kepanitiaan sekolah dan rapat rapatnya. Karena bagi dengan membahas tingkat ini lebih dahulu, kita bisa melihat hal yang mendasar, bagaimana konsep itu sendiri lahir juga inti permasalahan pada rapat ini sebenarnya tak cukup pelik.
Gejala yang bisa kita lihat adalah tidak adanya korelasi antara bentukan acara (yang didalamnya termasuk inovasi) dengan tujuan hadirnya acara itu sendiri. Sebagai contoh, pada acara besar FL Battlefield ada satu hal yang membedakannya dari acara bazar sebelumnya. Hal itu adalah Flashmob, lengkap dengan musik musik barat yang meriah. Flashmob ini saya akui, yang saya lihat dari rekamannya di youtube, mengundang ketertarikan pengunjung dan menambah kemeriahan acara. Namun ketika mengingat pada tujuan dasar acara, yang bertujuan "membangkitkan moral dan mental kebangsaan", yang walaupun moral mental bangsa itu sendiri belum jelas maksudnya, tidak bisa dilihat hubungan antara "inovasi" tersebut dengan konsep dasarnya. Flashmob itu tak membantu untuk mencapai tujuan konsep. Saya mengakui betul, dengan adanya "inovasi" tersebut acara jadi lebih meriah. Namun saya kira kita juga perlu jujur pada diri sendiri bahwa ketika merencanakan acara tersebut, kita punya tujuan, acara bukan semata untuk hiburan tapi membawa pesan. Kalau memang pada awalnya acara murni menghibur, maka silahkan. Karena tak akan ada sesuatu yang sia-sia kalau memang begitu.

Lalu bagaimana bisa "Inovasi" itu hadir dan dipertunjukkan jika memang tidak ada hubungannya dengan tujuan acara sendiri? sederhana saja jawabnya, "Inovasi" tersebut tidak lahir dari proses berfikir yang mendasar pada konsep. Ia sekedar hadir dari sebuah hasrat akan kebaruan, namun melupakan konsep dasar yang didalamnya terdapat alasan kenapa acara tersebut dibuat. Runtutannya adalah : "Saya perlu inovasi - Inovasi apa yang perlu dibuat? - Saya menemukan hal ini baru - Saya akan jadikan ini inovasi." Konsep tidak begitu disinggung disini.

Lalu, bagaimana seharusnya Inovasi lahir agar mampu punya manfaat terhadap konsep? kita mesti merubah runtutan berfikirnya menjadi : "Saya memiliki konsep A - Bagaimana cara saya mencapainya? - Saya menemukan caranya." Kenapa pada pola pikir ini inovasi malah tidak disebut? bukan tidak disebut, tapi belum sampai, pada tahap ketiga kita perlu menanyakan hal lain : "Apakah ada cara lain daripada cara yang sudah sering dilakukan? - Apakah cara lain itu dapat lebih memberikan manfaat? - Apakah cara ini baru?" Nah, jika memang ada cara lain, dan itu adalah cara baru, saat itulah kita menemukan inovasi untuk menyikapi masalah yang ada dalam konsep kita.

Kebaruan memang sengaja disimpan terakhir, karena jika kebaruan yang di awal ia akan menghasilkan bentukan yang sifatnya dipaksakan. Bahkan kepada kebuntuan, yang dalam hal ini berarti, bagaimana kita akan mencari sebuah solusi baru jika masalahnya sendiri tidak di pikirkan dan kita hanya terpaku untuk mencari hal yang baru?

Alasan lain adalah karena memang kebaruan itu hanyalah "bonus". Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mencapai suatu tujuan dengan suatu teknis/bentukan untuk menjawab masalah dalam jalan menuju tujuan. Jika kebaruan itu yang diutamakan maka proses berpikir akan berakhir pada model berpikir yang pertama, yang disebut inovasi disana tak mendukung konsep, sehingga akan berujung pada kesia-siaan usaha dalam konteks mencapai tujuan konsep.

Selain itu yang penting untuk diingat adalah kita juga perlu memiliki pemahaman yang baik atas konsep tersebut. Karena untuk mencari alternatif cara, diperlukan wawasan yang luas.
Selanjutnya, untuk persoalan inovasi di organisasi saya sendiri, harus dicermati secara lebih khusus. Karena ruang lingkupnya lebih sempit sekaligus lebih luas. Saya akan coba jawab di tulisan berikutnya. Saya mau rehat.